Cropped Red S Simbol.webp
Surau.ID •
05 Juli 2026 | 23:04 WIB
Daerah

KH. Mabsutotan Mi’ad: Tujuan Menuntut Ilmu Bukan Hanya Nilai, tapi Mengantarkan pada Ketakwaan

KH. Mabsutotan Mi'ad saat menyampaikan ceramah agama (Foto: Surau.ID/Ist)

 

PROBOLINGGO (Surau.ID) – Yayasan Tarbiyatul Islam Walisongo, Banyuanyar Tengah, sukses menggelar rangkaian acara Haflatul Imtihan ke-63 sekaligus Wisuda ke-29 yang berlangsung meriah selama dua hari, Sabtu hingga Minggu (4–5 Juli 2026). Rangkaian kegiatan tahunan ini diisi dengan berbagai agenda, mulai dari pembagian rapor (rapotan), pentas seni, karnaval budaya, hingga ditutup dengan prosesi wisuda sebagai puncak acara pada Minggu (5/7).

Kemeriahan sudah terasa sejak hari pertama melalui unjuk bakat siswa dalam pentas seni dan pawai seni budaya yang menyedot perhatian masyarakat sekitar.

Namun, suasana khidmat dan haru baru benar-benar terasa saat prosesi wisuda dimulai, terlebih dengan hadirnya tokoh agama karismatik, KH. Mabsutotan Mi’ad (Kiai Mas Mamad) dari Pondok Pesantren Lubbul Labib, Kedungsari, Maron, selaku penceramah utama.

Ilmu Bukan Sekadar Nilai, tetapi Keberkahan

Dalam tausiyahnya di hadapan ratusan wali murid dan wisudawan, KH. Mabsutotan Mi’ad menekankan pentingnya esensi dari menuntut ilmu. Beliau mengingatkan bahwa indikator keberhasilan pendidikan bukan sekadar angka di atas kertas rapor.

“Tujuan menuntut ilmu bukan hanya untuk memperoleh nilai yang baik, tetapi agar ilmu tersebut mampu mengantarkan seseorang menjadi pribadi yang bertakwa serta memberi manfaat bagi agama, keluarga, dan masyarakat,” tuturnya.

Beliau juga menambahkan bahwa membentuk karakter anak yang bermanfaat di era modern ini bukanlah perkara instan.

Menurutnya, dibutuhkan sinergi yang kuat berupa proses pendidikan yang panjang, kesabaran, ketelatenan, pengorbanan orang tua, serta untaian doa yang tidak pernah putus.

Anak yang saleh, lanjutnya, merupakan anugerah besar yang harus dijemput melalui ikhtiar lahir dan batin.

Melalui kutipan hadis Rasulullah SAW, Kiai Mas Mamad menegaskan bahwa sebaik-baik manusia adalah mereka yang paling membawa manfaat bagi sesamanya. Beliau juga mengingatkan para orang tua bahwa investasi terbaik di akhirat kelak adalah doa dari anak yang saleh.

Tiga Pilar Utama Membentuk Anak Bermanfaat

Lebih dalam, pengasuh Ponpes Lubbul Labib ini membeberkan tiga perkara utama yang menjadi fondasi dasar dalam mendidik anak agar menjadi generasi yang berguna:

Pendidikan Agama yang Benar: Membekali anak dengan pemahaman syariat yang kuat agar mampu membedakan hal yang halal dan haram, memahami kewajiban kepada Allah SWT, serta memiliki akhlak yang mulia.

Keteladanan Orang Tua: Menjadi cermin hidup di rumah. Anak-anak adalah peniru yang ulung; mereka jauh lebih mudah mencontoh perbuatan nyata orang tua dibandingkan hanya mendengar nasihat verbal.

Doa dan Kesabaran: Mengiringi tumbuh kembang anak dengan untaian doa tulus dari orang tua, serta memiliki stok kesabaran yang luas tanpa mudah putus asa dalam membimbing mereka.

Sinergi Guru dan Wali Murid

Menutup ceramahnya, KH. Mabsutotan Mi’ad mengajak seluruh wali murid yang hadir untuk terus membangun komunikasi dan bersinergi dengan para guru di madrasah.

“Pendidikan yang tuntas tidak akan bisa berjalan timpang jika hanya mengandalkan satu pihak,” tandasnya.

Beliau berharap, momentum Haflatul Imtihan ke-63 ini menjadi pintu gerbang bagi siswa-siswi Yayasan Tarbiyatul Islam Walisongo untuk tumbuh menjadi generasi yang berilmu mapan, berakhlakul karimah, berbakti kepada orang tua, serta menjadi lentera yang membawa keberkahan bagi agama, bangsa, dan masyarakat luas.

Penulis: Badrul Nurul Hisyam
Editor: Redaksi Surau.ID
TAGS
White Surau
PT. SURAU NUSANTARA GROUP
Perum D’Tanjung Raya, Gang Alamanda, Blok S5, Karanganyar, Paiton, Probolinggo, Jawa Timur 67291

Langganan

Dapatkan artikel atau tulisan terbaru dari Surau.id
Copyright © 2026 Surau.id