JAKARTA (Surau.ID) – Kementerian Agama melalui Ditjen Bimas Islam menyelenggarakan Gerakan Nasional Indonesia Berkiblat 2026 pada 15-16 Juli 2026, dengan total 725.669 titik lokasi verifikasi arah kiblat terdaftar.
Fenomena Rashdul Qiblat dimanfaatkan sebagai metode ilmiah untuk memastikan akurasi arah kiblat dengan memanfaatkan posisi matahari di titik zenit Ka’bah yang terjadi dua kali setiap tahun.
Kegiatan ini melibatkan berbagai fasilitas publik, mulai dari masjid, musala, hingga tempat usaha. Partisipasi luas masyarakat dalam gerakan ini menjadi bukti tingginya antusiasme publik terhadap edukasi ilmu falak yang praktis dan akurat.
Sinergi Edukasi dan Literasi Falak
Gerakan ini tidak sekadar verifikasi arah kiblat, melainkan momentum peningkatan literasi masyarakat mengenai pentingnya ilmu falak dalam pelayanan keagamaan. Sebelumnya, kegiatan ini didahului oleh seminar astronomi internasional bersama pakar dari berbagai negara.
Metode yang diterapkan sangat sederhana, yakni menggunakan bayangan benda tegak lurus untuk menentukan arah Ka’bah. Edukasi ini diharapkan mampu memperkuat akurasi arah kiblat di berbagai tempat ibadah dan fasilitas umum secara mandiri.
Dampak dan Apresiasi Publik
Program ini mendapatkan respons positif karena dianggap sangat bermanfaat dan mudah dipraktikkan langsung oleh masyarakat luas dalam kehidupan sehari-hari. Langkah ini dinilai sebagai terobosan efektif dari pemerintah bagi umat Islam.
“Terima kasih atas program gerakan Indonesia Berkiblat yang diprakarsai oleh Direktorat Urusan Agama Islam dan Bina Syariah,” ujar Jumarno, Sekretaris PCNU Kota Semarang.
Keberhasilan gerakan ini menjadi tonggak penting dalam merawat tradisi keilmuan Islam yang adaptif terhadap perkembangan sains, sekaligus memastikan kenyamanan umat dalam menjalankan ibadah dengan arah yang tepat.