SURABAYA (Surau.ID) – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Timur memprediksi kemarau panjang tahun ini berpotensi memicu krisis air bersih yang berdampak pada lebih dari 410 ribu kepala keluarga (KK).
Data tersebut merupakan hasil pemetaan BPBD terhadap potensi kekeringan di berbagai wilayah. Tercatat, ancaman meliputi 222 kecamatan dan 815 desa di sejumlah kabupaten/kota di Jawa Timur.
Kepala Pelaksana BPBD Jawa Timur, Gatot Soebroto, mengatakan Pulau Madura menjadi kawasan paling rawan terdampak. Kabupaten Sampang mencatat jumlah tertinggi dengan 109.446 KK di 14 kecamatan, disusul Pamekasan sebanyak 63.171 KK.
“Bojonegoro tercatat memiliki 36.585 KK terdampak di 11 kecamatan dan 89 desa, sedangkan Bangkalan mencapai 36.950 KK di 10 kecamatan dan 59 desa,” ujarnya saat dikonfirmasi.
Selain Madura, sejumlah wilayah lain juga mulai merasakan dampak awal kekeringan, salah satunya Kabupaten Tuban.
BPBD Jawa Timur menyatakan telah menyiapkan langkah darurat berupa distribusi air bersih dan penempatan tandon di titik-titik rawan.
“Saat ini masih dilakukan oleh BPBD kabupaten apabila membutuhkan droping seperti yang terjadi di Tuban,” kata Gatot.
Selain krisis air, BPBD juga meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang kerap terjadi saat musim kemarau panjang.
Gatot menambahkan, pemerintah provinsi siap memberikan dukungan logistik bagi daerah terdampak, termasuk melalui dana tak terduga jika anggaran darurat di tingkat kabupaten/kota tidak mencukupi.
“Kami support bila kabupaten tidak memiliki anggaran ataupun anggarannya telah menipis. Menyesuaikan dengan kebutuhan mereka mengajukan dan kami akan ajukan ke gubernur sesuai kebutuhan tersebut,” ujarnya.
BPBD mengimbau pemerintah daerah dan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan serta melakukan langkah antisipasi sejak dini guna meminimalkan dampak kekeringan yang lebih luas.