JAKARTA (Surau.ID) – BPIS-Lakpesdam PBNU menggelar Talkshow Inovasi I bertajuk ‘Santri Berkarya, Berjejaring, dan Berdaya’ di Gedung PBNU, Jakarta, Rabu (17/6/2026), sebagai rangkaian persiapan menuju Nahdliyin Innovation Summit (NIAS).
Kegiatan ini menjadi ruang strategis bagi para santri, praktisi digital, dan inovator teknologi untuk merumuskan peran santri dalam ekosistem digital Indonesia. Fokus utama forum ini adalah mendorong santri agar tidak sekadar menjadi konsumen, melainkan kreator teknologi yang solutif.
Diskusi ini sekaligus menandai momentum penting dengan diluncurkannya platform ‘KangSantri AI’. Inovasi berbasis kecerdasan buatan ini mengintegrasikan lebih dari 7.000 kitab kuning sebagai basis pengetahuan untuk mempermudah masyarakat mengakses rujukan keislaman yang kredibel dan terukur.
Menjaga Sanad di Ruang Digital
Pesantren memiliki modal intelektual yang sangat kaya, namun tantangannya adalah bagaimana mentransformasikan kekayaan tersebut ke ruang digital. Inovasi yang dilakukan harus tetap berpijak pada tradisi, sanad keilmuan, serta etika pesantren agar nilai-nilai keislaman tidak kehilangan esensinya.
Digitalisasi khazanah pesantren dipandang sebagai langkah krusial agar tradisi intelektual Islam tetap relevan menjawab kebutuhan zaman. Dengan teknologi yang tepat, transmisi ilmu pengetahuan dari para ulama dapat tersampaikan kepada masyarakat luas secara lebih efektif dan efisien.
Membangun Ekosistem Inovasi yang Inklusif
Rangkaian kegiatan menuju NIAS ini diharapkan mampu melahirkan ekosistem inovasi yang inklusif bagi seluruh warga Nahdliyin. Kolaborasi antara akademisi, komunitas pesantren, dan pelaku industri teknologi akan menjadi kunci utama dalam membangun masa depan digital yang beretika.
“KangSantri AI bukan untuk menggantikan peran ulama, melainkan menjadi alat bantu yang memudahkan masyarakat mengakses khazanah keilmuan Islam yang selama ini tersimpan dalam ribuan kitab dan referensi pesantren,” ujar Arif Balya, Founder dan CEO SantriAI.com.
Semoga semangat inovasi ini terus tumbuh dan berkembang di lingkungan pesantren seluruh Indonesia. Dengan memadukan kedalaman tradisi dan kecanggihan teknologi, santri akan terus menjadi agen perubahan yang memberikan kemanfaatan nyata bagi bangsa di tengah arus transformasi digital yang kian cepat.