Cropped Red S Simbol.webp
Surau.ID •
19 Januari 2026 | 20:26 WIB
Pesantren

Alhabib Ja’far Ali Baharun: Menjaga Api Ilmu dan Tariqah Hingga Pelosok Desa

Foto kiai
Alhabib Jafar Ali Baharun.

 

Probolinggo (Surau.ID) – Sore itu, Sabtu, 25 Juli 2020, suasana Desa Brani Wetan, Kecamatan Maron, Kabupaten Probolinggo, terasa lebih sunyi dari biasanya. Tepat pukul 15.00 WIB, kabar wafatnya Alhabib Ja’far Ali Baharun menyebar dari mulut ke mulut. Ulama kharismatik, pengasuh Pondok Pesantren At-Tarbiyah At-Tijaniyah itu berpulang, meninggalkan jejak panjang pengabdian yang tak mudah dilupakan oleh santri dan masyarakat yang pernah disentuh dakwahnya.

Bagi masyarakat sekitar, Alhabib Ja’far bukan sekadar seorang kiai atau mursyid. Ia adalah figur pengayom sosok yang hadir dengan kesederhanaan, kelembutan tutur, dan keteladanan hidup. Dakwahnya tidak berjarak. Ia memilih jalan sunyi: mendekat, mendengar, lalu menuntun dengan contoh, bukan sekadar kata-kata.

Akar Ilmu dan Jejak Kegigihan

Alhabib Ja’far Ali Baharun lahir di Bondowoso dari keluarga habaib keturunan Baharun yang berakar dari Hadramaut, Yaman. Ayahandanya, Habib Ali bin Umar Al-Baharun, menjadi fondasi awal pembentukan keilmuan dan akhlaknya. Sejak usia muda, semangat menuntut ilmu telah mengakar kuat dalam diri beliau.

Perjalanan intelektual dan spiritualnya ditempa melalui berguru kepada sejumlah ulama besar di Jawa Timur. Salah satu fase penting dilalui saat beliau menimba ilmu di Pondok Pesantren Nahdlatut Thalibin, Blado Wetan, Banyuanyar, Probolinggo, di bawah asuhan KH. Khozin. Di tempat inilah, selain memperdalam ilmu agama, beliau mulai menapaki jalan tarekat sebuah laku spiritual yang kelak menjadi poros utama pengabdiannya.

Menetap, Mengabdi, dan Membangun dengan Kesederhanaan

Setelah menikah dengan Syarifah Nuning Al-Hamid, putri Alhabib Husein bin Hadi Al-Hamid, Alhabib Ja’far memutuskan menetap di Desa Brani Wetan. Pilihan itu bukan tanpa makna. Di desa inilah beliau menanamkan seluruh hidupnya untuk dakwah dan pendidikan.

Pondok Pesantren At-Tarbiyah At-Tijaniyah didirikan dengan prinsip yang jarang ditemui: tanpa meminta atau menerima bantuan materi, baik dari masyarakat maupun pemerintah. Bagi Alhabib Ja’far, kehati-hatian terhadap sumber dana merupakan bagian dari menjaga kemurnian niat dan menghindari harta syubhat.

Kezuhudan itu bukan slogan, melainkan sikap hidup yang dijalani secara konsisten.
Pesantren yang diasuhnya tetap menjaga tradisi salaf, menekankan pendidikan akhlak, dan membumikan ajaran Tariqah Tijaniyah sebagai jalan pembinaan rohani. Dari pesantren sederhana itulah, cahaya ilmu dan tarekat memancar ke berbagai penjuru.

Dakwah yang Turun ke Bawah

Keistimewaan Alhabib Ja’far terletak pada cara beliau berdakwah. Ia tidak menunggu umat datang, tetapi mendatangi umat. Desa demi desa disambangi, majelis demi majelis dihidupkan. Dakwah baginya bukan panggung, melainkan pengabdian.

Prinsip dakwah yang beliau pegang teguh terangkum dalam tiga hal: bi al-kalām (menyampaikan dengan tutur kata yang lembut), bi al-qadam (hadir langsung di tengah masyarakat), dan bi al-amal (memberi teladan melalui perbuatan). Ketiganya berjalan beriringan. Apa yang diucapkan, dijalani; apa yang diajarkan, dicontohkan.

Gaya tuturnya yang santun dan menenangkan membuat masyarakat merasa dekat. Banyak yang merasakan keteduhan saat berada di sekelilingnya sebuah keteduhan yang lahir dari lisan yang terbiasa berzikir dan hati yang istiqamah menyeru kebaikan.

Mengawal Tariqah Hingga Generasi

Dalam Tariqah Tijaniyah, Alhabib Ja’far dikenal sebagai seorang Muqaddam, pemegang amanah untuk membimbing dan mengijazahkan amalan tarekat. Sanad keilmuan dan spiritual yang beliau miliki tersambung hingga Rasulullah SAW melalui mata rantai para masyayikh Tijaniyah, hingga Sayyidul Auliya’, Al-Qutb Al-Maktum Ahmad bin Muhammad At-Tijani.

Perannya tidak berhenti pada aspek ritual. Beliau mengawal keberlangsungan Tariqah Tijaniyah melalui kegiatan rutin seperti wadzifah, manaqib, hailalah, dan Idul Khotmi baik harian, mingguan, hingga tahunan. Aktivitas ini dijalani dengan konsistensi tinggi, menjadi ruang pembinaan spiritual sekaligus penguatan sosial umat.

Dari desa kecil di Probolinggo, kiprah Alhabib Ja’far menjangkau lingkup yang lebih luas. Jaringan murid dan jamaahnya tersebar, membuat namanya dikenal tidak hanya di tingkat regional, tetapi juga nasional hingga internasional.

Warisan Keteladanan

Alhabib Ja’far Ali Baharun telah berpulang, namun api pengabdian yang dinyalakannya belum padam. Ia meninggalkan warisan yang tidak diukur dengan bangunan megah atau popularitas, melainkan dengan akhlak, ketulusan, dan kegigihan menjaga ilmu serta tarekat di tengah masyarakat akar rumput.

Di tengah zaman yang kerap mengukur keberhasilan dengan sorotan dan materi, Alhabib Ja’far memilih jalan sunyi: berjalan, mengabdi, dan membimbing hingga akhir hayatnya.

Al-Fatihah untuk guru dan teladan, semoga Allah SWT menerima seluruh amal khidmah beliau dan menempatkannya bersama para kekasih-Nya. Aamiin.

Penulis: Adi Purnomo Suharno
Editor: Redaksi Surau.ID
TAGS
White Surau
PT. SURAU NUSANTARA GROUP
Perum D’Tanjung Raya, Gang Alamanda, Blok S5, Karanganyar, Paiton, Probolinggo, Jawa Timur 67291

Langganan

Dapatkan artikel atau tulisan terbaru dari Surau.id
Copyright © 2026 Surau.id