JAKARTA (Surau.ID) – Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Kepala BKKBN Wihaji mengimbau para remaja Indonesia untuk tidak malu menceritakan persoalan hidup yang dialami. Imbauan tersebut disampaikan pada Peringatan Hari Kesehatan Mental Sedunia 2026 di Jakarta, Jumat (30/10/2026).
Peringatan bertema “Pengalaman Hidup yang Didengar: Suara Nyata, Perubahan Nyata” ini digelar BKKBN bersama UNICEF dan Forum Duta GenRe. Langkah ini diambil guna menanggapi tingginya angka gangguan kesehatan emosional di kalangan generasi muda.
Berdasarkan riset Indonesia National Adolescent Mental Health Survey (I-NAMHS) 2022, sebanyak 34,9 persen atau satu dari tiga remaja di Indonesia tercatat mengalami masalah kesehatan mental.
Fasilitas Konseling dan Peran Utama Keluarga
Guna merespons kondisi tersebut, BKKBN menyediakan Pusat Informasi dan Konseling Remaja (PIK-R), saluran konsultasi Halo Remaja, serta pelatihan konselor sebaya di berbagai daerah.
Selain penguatan fasilitas, lingkungan keluarga dinilai menjadi benteng utama dalam mendengarkan dinamika emosi anak tanpa menghakimi.
Upaya Menekan Perundungan dan Stigma
Pemerintah berkomitmen meningkatkan literasi emosional, memperluas akses layanan kesehatan mental, serta menekan angka perundungan di lingkungan sekolah maupun masyarakat.
“Jangan disimpan, sehingga nanti justru kalau malu, kemudian takut, kemudian yang sekarang lagi banyak bullying, betul-betul minta diperhatikan,” ujar Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Kepala BKKBN, Wihaji pada Jumat (30/10/2026).
Melalui perluasan program ini, remaja diharapkan makin terbuka dalam mengungkapkan perasaannya guna menciptakan kesehatan emosional yang jauh lebih baik.