JAKARTA (Surau.ID) – Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Muhaimin Iskandar atau Cak Imin, memberikan imbauan tegas menjelang pelaksanaan Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU). Ia mengingatkan bahwa NU adalah organisasi kemasyarakatan yang bersifat merangkul, bukan organisasi politik yang menjadi ajang kompetisi kekuasaan.
Pernyataan ini disampaikan Cak Imin menanggapi dinamika internal di Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) pasca-Musyawarah Nasional (Munas) Alim Ulama dan Konferensi Besar (Konbes) 2026 yang digelar di Pondok Pesantren Alfalah Ploso, Kediri, Jawa Timur, Sabtu (20/6/2026).
Menjaga Marwah NU
Cak Imin menekankan agar pihak-pihak yang ingin melakukan aktivitas politik praktis untuk melakukannya melalui jalur partai politik, bukan dengan membawa kepentingan tersebut ke dalam tubuh NU.
“Yang main-main di NU keluarkan saja. Yang berpolitik silakan di partai saja. NU itu lesehan dan menyatu tanpa ketegangan,” ujar Cak Imin dalam keterangannya, Minggu (21/6/2026).
Menurutnya, NU adalah wadah orkestrasi kultural yang menyatukan umat, bukan organisasi yang memunculkan perpecahan atau semangat saling menyingkirkan. Ia pun mengenang kepemimpinan masa lalu, seperti sosok Hasyim Muzadi, yang dinilai mampu menjaga persatuan organisasi.
Semangat Persatuan Menuju Muktamar
Forum Munas Alim Ulama dan Konbes 2026 ini menjadi agenda krusial sebelum Muktamar NU yang dijadwalkan berlangsung pada 1–5 Agustus 2026. Ketua Umum PBNU, Yahya Cholil Staquf, juga turut menyerukan semangat persatuan agar proses transisi kepengurusan berjalan dengan penuh kejujuran dan tanpa kontroversi.
Diketahui sebelumnya, PBNU sempat diwarnai isu perpecahan internal. Namun, ketegangan tersebut berhasil diredam melalui kesepakatan untuk mempercepat jadwal muktamar dari yang semula direncanakan pada Desember 2026 menjadi Agustus 2026. Langkah ini diharapkan mampu menghadirkan kebersamaan dan gagasan-gagasan solutif bagi kemaslahatan organisasi.