Home / Puisi / Sastra

Selasa, 10 September 2019 - 20:35 WIB

Counter Attack

Ilustrasi Counter Attack. (Gambar IST/Shutterstock)

Ilustrasi Counter Attack. (Gambar IST/Shutterstock)

Puisi-puisi En. Shidqi*

Counter Attack

Saya sedang mencatat
“Itulah yang buatmu cacat”
Saya sedang mendengkur
“Itulah yang buatmu makmur”
Saya merasa tak baik
“Jangan bilang karena wanita cantik”
Tidak tuan, tidak sama sekali
“Jangan paksa itu hati”
Kata yang cukup membuat dada terhenyak
“Sudahlah jangan mengelak”
Tuan tak lihat saya sedang tergelak
“Aku tak bicara itu”
Seharusnya tuan merasa malu
“Perkataan yang tak bermaksud”
Ooo jangan bilang tuan tersulut
“Omong kosong seorang yang sedang kalut”
Tuan malah lebih kalut dari kemelut
“Sudah cukup”
Ternyata meletup
“Cukup!”
Cukup apik?
“Taik”
Jahahahahahahaha

Baca Juga :  Laut Membawamu Pergi

2019

Si Pandir III

Betapa dangdut berdendang menendang bungkam sisa sisa resah yang menggelanggang
Melipir menukik ke dalam benih-benih jiwa berterompah
Menjajah dedak-dedak dada
Sisakan remah-remah pujangga
Sudahi, Nak…
Lekaslah ia berkata, “meski tumpas, tak boleh aku jadi ampas”
lalu berlari untuk meniduri mimpi yang tak kunjung bangunkan birahi
Lalu semedi untuk mencari puncak yang paling ilahi
Lalu memaki untuk segala dengki yang memandangi

Baca Juga :  Tanah Jimat

Oh selamat datang
Jangan bilang sedang terpejam
Bilang saja berang dipendam

2019

Di pekarangan, Kutemukan Raga yang Kupikir Sebenarnya, Seharusnya

Berleha leha
Bermanja ria
Membabi buta

Kancut bolong!

2019

Nur Shidqi Muhammad* En. Shidqi bernama asli Nur Shidqi Muhammad. Mahasiswa STKIP PGRI Sumenep asal Desa Jadung, Kecamatan Dungkek.

Share :

Baca Juga

Puisi

Tentang Senja dan Sehabis Itu

Puisi

Pusar Laut
Woman

Puisi

Perempuan Langit, Purnama Maskawinku
Rintik Rindu

Puisi

Rintik Rindu, Story, dan Baka
Pergi

Puisi

Aku Pergi
Makan Bakso Berdua

Cerpen

Perempuan yang Memecut Punggung Lelaki

Puisi

Air Jatuh

Puisi

Laut Membawamu Pergi