Home / Agama / Artikel

Minggu, 8 September 2019 - 14:03 WIB

Dakwah Hari Ini Tak Mencerminkan Dakwah Zaman Dulu

Ilustrasi Ceramah. (Foto IST/Shutterstock)

Ilustrasi Ceramah. (Foto IST/Shutterstock)

Oleh: Moh Amin Rais*

Akhir-akhir ini kita banyak dihadapkan dengan dakwah dan ceramah yang membuat semangat kita berapi-api. Bahkan dengan banyaknya ustadz atau ulama dadakan yang saat ini makin ngetrend di sosial media seperti YouTube, Facebook, Instagram dan beberapa platform lainnya membuat dakwah hari ini semakin tidak terkontrol.

Menurut Wikipedia, dakwah berasal dari bahasa Arab yang berarti ajakan. Kegiatan yang bersifat menyeru, mengajak dan memanggil orang untuk beriman dan taat kepeda Allah sesuai dengan garis aqidah, syariat dan akhlak Islam.

Namun beda halnya hari ini, seruan dan ajakan yang disampaikan oleh ustadz atau ulama dadakan bersifat mengikat dan memaksa. Seolah-olah apa yang disampaikan mereka, otomatis menjadi kewajiban yang harus dilakukan.

Beda ketika zaman Nabi Muhammad SAW, beliau hanya diwajibkan berdakwah tanpa memaksa seseorang untuk memeluk agamanya saat itu. Karena hidayah seseorang hanya Tuhan yang tahu, jadi tidak ada hak untuk melakukan paksaan dalam berdakwah, apalagi mengkafirkan atau bahkan membunuh sesama manusia.

Baca Juga :  Umrah Kembali Dibuka, Kemenag Sumenep Perketat CJH Dengan Menerapkan Protokol Kesehatan

“Sesungguhnya engkau (Muhammad) tidak akan dapat memberi hidayah (petunjuk) kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi hidayah kepada orang yang Dia kehendaki, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk”. (QS. Al Qashash/28 : 56)

Pendakwah zaman dulu (Nabi dan Rasul) hanya memberikan penjelasan tanpa mengancam atau mengutuk. Sedangkan untuk diterimanya sebuah dakwah tersebut tergantung orang yang mendengarkan. Jika penjelasannya diterima, maka itu adalah taufik dari Allah. Jika tidak diterima dan yang diberikan dakwah tetap saja tidak mendapat hidayah, maka Rasul pada saat itu tidak bisa bertindak apa-apa atau bertindak menghukum.

Baca Juga :  Berikut 6 Penyebab Utama Hipertensi

“Utusan itu berkata, sesungguhnya kami hanyalah menyampaikan apa yang mesti disampaikan pada kalian. Jika kalian taat, maka kebahagiaan bagi kalian di dunia dan akhirat. Jika tidak mau mengikuti, kalian pun sudah tahu akibat jelek di balik itu semua. Wallahu a’lam.” (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 6: 333)

Bisa dibayangkan bukan, seorang Nabi atau Rasul yang tingkat kedekatannya dengan Tuhan sudah melebihi ustadz dan para ulama hanya mengajar apa yang diperintah tanpa memaksa. Lalu mengapa Ulama dadakan hari ini langsung mewajibkan setiap ajarannya?

* Redaktur Surau.ID. Mahasiswa Semester III STIT Al Karimiyyah Beraji, Gapura, Sumenep. Aktivis LPM Dialektika.

Share :

Baca Juga

Artikel

Bingung Mengisi Hari Minggu, Lakukanlah 6 Hal Ini
Minyak Paling Diminati Perempuan

Artikel

Untuk Masalah Kewanitaan, Tiga Minyak Ini Paling Diminati Perempuan

Artikel

Ini 9 Menu untuk Diet yang Bisa Anda Coba

Artikel

Minum Es Kopi Lebih Menyehatkan Daripada Kopi Panas, Benarkah??

Artikel

Sehat Tidak Minum Kopi Sebelum Sarapan?
Halaqah Fiqhul Kufid

Agama

Lakpesdam MWC NU Manding Gelar Halaqah Fiqhul Kufid karya Bupati Sumenep
Bersyukur

Agama

Kenapa Kita Harus Bersyukur

Artikel

Berat Badan Naik Lagi Setelah Diet?