PROBOLINGGO (Surau.ID) — Muhammad Fachrur Rozi meyakini inovasi pendidikan harus lahir dari kebutuhan nyata masyarakat. Prinsip itu yang ia pegang hingga mengantarkannya meraih penghargaan Anugerah Inovasi Daerah (INODA) Kabupaten Probolinggo 2026.
Kepala SMAN 1 Kuripan sekaligus Pelaksana Tugas Kepala SMAN 4 Probolinggo itu mendapat penghargaan atas pengembangan SMA Satelit Wonoasri, program yang membuka akses pendidikan SMA bagi masyarakat di wilayah dengan keterbatasan akses sekolah.
Bagi Rozi, penghargaan tersebut bukan akhir perjalanan. Ia justru melihatnya sebagai pengingat agar para pendidik terus bergerak menghadirkan solusi nyata bagi masyarakat.
“Alhamdulillah saya mewakili rekan SMAN 1 Kuripan semua merasa bersyukur atas apresiasi INODA ini. Sungguh ini merupakan pelecut motivasi bagi kami untuk terus memberikan sumbangsih kinerja terbaik. Memberikan pelayanan pendidikan terbaik untuk masyarakat agar IPM Kabupaten Probolinggo semakin meningkat,” ujarnya.
Rozi mengatakan sebuah inovasi akan memiliki dampak besar jika lahir dari persoalan yang benar-benar dirasakan masyarakat. Karena itu, menurut dia, pendidikan tidak cukup hanya berjalan secara administratif, tetapi juga harus mampu menjawab kebutuhan di lapangan.
“Menurut saya, kunci dari keberhasilan ini adalah inovasi yang memang lahir dari sebuah kebutuhan nyata. Sehingga praktik baik tersebut menjadi sebuah solusi dalam memecahkan permasalahan yang ada,” katanya.

Di balik keberhasilan program SMA Satelit Wonoasri, Rozi mengaku tantangan terbesar bukan sekadar fasilitas pendidikan. Yang paling sulit adalah mengubah pola pikir masyarakat agar percaya pentingnya melanjutkan pendidikan hingga tingkat SMA.
“Tantangan terbesarnya adalah mindset yaitu bagaimana meyakinkan masyarakat untuk melanjutkan pendidikan sampai dengan tingkat SMA,” ujarnya.
Menurut Rozi, program tersebut perlahan berhasil menekan angka anak tidak sekolah dan putus sekolah di wilayah setempat. Kehadiran SMA Satelit Wonoasri dinilai membuka kesempatan baru bagi pelajar di daerah yang sebelumnya kesulitan mengakses pendidikan.
Ia menegaskan keberhasilan itu lahir dari kolaborasi banyak pihak. Mulai dari sekolah, pemerintah daerah, hingga tokoh pendidikan di tingkat desa ikut terlibat dalam pengembangan program tersebut.
“Kami SMAN 1 Kuripan bersama Cabang Dinas Pendidikan, Dinas Pendidikan Kabupaten, pihak kecamatan, pihak Desa Wonoasri dan Kedawung, PGRI serta kepala-kepala SMP setempat. Sungguh kolaborasi yang luar biasa,” katanya.
Rozi yang merupakan lulusan Pendidikan Akuntansi Universitas Negeri Malang dan Magister Manajemen Pendidikan Universitas Negeri Semarang itu juga aktif meningkatkan kapasitas diri. Ia baru menyelesaikan Diklat Leadership di Singapore serta mengikuti program Coaching and Mentoring di Institut Aminuddin Baki.
Bagi Rozi, inovasi pendidikan tidak boleh berhenti pada satu program. Ia berharap semangat untuk terus bergerak dan menggerakkan dapat menjadi budaya di dunia pendidikan.
“Pesan kami, mari kita terus berinovasi dengan kreatif. Teruslah bergerak dan menggerakkan,” tuturnya.