Cropped Red S Simbol.webp
Surau.ID •
25 Mei 2026 | 18:48 WIB
Daerah

Diskusi Film Dokumenter Pesta Babi Bareng PWI Probolinggo, Ini Pesan Gus Fayyadl

IMG
Peserta mengikuti pemutaran film dokumenter Pesta Babi yang digelar PWI Probolinggo Raya, Sabtu (23/05/2026) malam (Foto: Surau.ID/PWI Probolinggo).

 

PROBOLINGGO (Surau.ID) – KH Muhammad Al-Fayyadl menekankan pentingnya dialog dalam menyikapi berbagai persoalan di Papua saat menjadi narasumber dalam diskusi kebangsaan di Kota Probolinggo, Sabtu (23/05/2026) malam. Penulis buku Filsafat Negasi sekaligus Mudir Ma’had Aly Nurul Jadid yang akrab disapa Gus Fayyadl itu menilai komunikasi antarpihak menjadi hal penting untuk memahami persoalan Papua secara lebih utuh.

Menurut Gus Fayyadl, persoalan Papua tidak dapat dipandang secara sederhana karena menyangkut banyak aspek kehidupan masyarakat. Ia menyebut pendekatan pembangunan, pendidikan, sosial, hingga keamanan saling berkaitan dalam dinamika yang terjadi di wilayah tersebut.

“Dialog tetap penting. Karena persoalan sebesar apa pun akan sulit selesai kalau masing-masing pihak tidak mau saling mendengar,” ucapnya.

Dalam pemaparannya, Gus Fayyadl menjelaskan bahwa ruang diskusi publik perlu terus dibuka agar masyarakat tidak terjebak pada sudut pandang tunggal. Ia menilai pemahaman terhadap persoalan kebangsaan membutuhkan proses mendengar dan membaca realitas dari berbagai sisi.

Menurut dia, arus informasi yang berkembang cepat di media sosial sering kali membuat publik menerima potongan isu tanpa konteks utuh. Karena itu, forum dialog dinilai penting untuk membangun cara pandang yang lebih jernih terhadap persoalan sosial dan kebangsaan.

Ketua PWI Probolinggo Raya, Babul Arifandi, mengatakan ruang dialog yang sehat harus dijaga sebagai bagian dari praktik demokrasi. Ia menyebut perbedaan pandangan seharusnya menjadi ruang belajar bersama, bukan alasan untuk saling menyalahkan.

“Kegiatan seperti ini bagus karena menghadirkan ruang dialog yang sehat. Kita bisa belajar mendengar pandangan yang berbeda tanpa harus saling menyalahkan,” kata Babul.

Ketua panitia, Eko Hardianto, menilai masyarakat membutuhkan ruang refleksi di tengah derasnya informasi digital yang beredar tanpa penjelasan menyeluruh. Ia mengatakan publik perlu belajar memahami suatu persoalan secara lebih mendalam sebelum menarik kesimpulan.

“Kadang kita menerima isu secara cepat tanpa memahami konteks utuhnya. Film dokumenter seperti ini bisa menjadi ruang belajar agar kita lebih bijak melihat persoalan kebangsaan,” ujarnya.

Pemutaran Film Dokumenter

Diskusi tersebut digelar dalam rangka pemutaran film dokumenter Pesta Babi yang diinisiasi Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Probolinggo Raya. Kegiatan berlangsung dalam format nonton bareng dan dialog terbuka yang diikuti wartawan, mahasiswa, aktivis, pegiat organisasi masyarakat, hingga sejumlah anggota TNI.

Film dokumenter itu menampilkan dinamika sosial masyarakat Papua, budaya lokal, serta sejumlah persoalan yang berkembang di wilayah tersebut. Selama pemutaran berlangsung, peserta tampak menyimak jalannya film dan mencatat beberapa poin yang menjadi perhatian dalam sesi diskusi.

Penulis: Badrul Nurul Hisyam
Editor: Redaksi Surau.ID
TAGS
White Surau
PT. SURAU NUSANTARA GROUP
Perum D’Tanjung Raya, Gang Alamanda, Blok S5, Karanganyar, Paiton, Probolinggo, Jawa Timur 67291

Langganan

Dapatkan artikel atau tulisan terbaru dari Surau.id
Copyright © 2026 Surau.id