JAKARTA (Surau.ID) – Jam’iyyah Ahlith Thariqah al-Mu’tabarah an-Nahdliyyah (JATMAN) menggelar Diskusi Tasawuf dan Tarekat Bulanan pertemuan ke-9 di Plaza PBNU, Jakarta Pusat, Sabtu (6/6/2026). Forum ini mengulas secara mendalam mengenai kurikulum pembinaan (tarbiyah) dan bimbingan spiritual (irsyad) yang menjadi standar bagi setiap mursyid dalam mendidik muridnya.
Narasi Metodologi Pembinaan Spiritual
Proses pembinaan spiritual dalam tarekat mu’tabarah diawali dengan tahapan shuhbah, di mana seorang guru berperan sebagai pendamping yang membimbing perkembangan ruhani murid secara berkelanjutan, bukan sekadar pemberi ijazah. Langkah selanjutnya adalah fokus pada zikir, yang menempatkan amalan seperti istighfar, selawat, dan kalimat tauhid sebagai fondasi utama ruhani yang bersanad hingga Rasulullah SAW.
Untuk mengasah kedisiplinan dan pengendalian diri, murid kemudian menempuh tahapan mujahadah guna memerangi hawa nafsu, yang diikuti dengan riyadhah sebagai bentuk latihan konsistensi dalam menjalankan ketaatan. Sebagai penutup dalam rangkaian pembinaan ini, terdapat metode mudzakarah, yakni ruang konsultasi penting bagi murid kepada gurunya. Tahapan ini bertujuan agar setiap pengalaman batin yang dialami murid selama menempuh perjalanan spiritual tetap terjaga kebenarannya serta terhindar dari pemahaman yang keliru atau ilusi spiritual.
“Semua metode itu pada akhirnya mengarah pada pembahasan tentang nafs (diri) dan Rabb (Tuhan). Tema ini tidak pernah berubah,” ujar Koordinator Lajnah Mubahatsah Masa’ilis Shufiyyah JATMAN, KH Rohimuddin Al-Bantani.
Parameter Kebenaran: Sinergi Syariat dan Hakikat
Di sisi lain, Rais Idaroh JATMAN, KH Muhammad Fathurrahman, menekankan bahwa praktik tasawuf tidak boleh terlepas dari koridor syariat. Meskipun dimensi batin sering kali sulit diverifikasi secara kasat mata, standar keilmuan dan bukti (al-bayyinah) tetap menjadi parameter mutlak. Kiai Fathurrahman menegaskan bahwa otoritas seorang mursyid tidak dinilai berdasarkan pengakuan pribadi atau klaim karamah semata, melainkan melalui bukti yang dapat dipertanggungjawabkan secara objektif.
“Seorang mursyid yang sah dapat dikenali dari bayyinah-nya, yakni ilmunya, keberkahannya, kesalehannya, dan akhlakul karimah-nya. Itulah bukti yang dapat diukur dan tidak bisa dibantah,” tandasnya.
Diskusi ini menegaskan kembali pentingnya menjaga kesinambungan antara pengalaman spiritual dengan landasan syariat yang kokoh dalam menempuh jalan tarekat, demi memastikan setiap salik (penempuh jalan spiritual) tetap berada pada jalur yang benar sesuai tuntunan para ulama.