PROBOLINGGO (Surau.ID) – Pemerintah menetapkan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) sebagai salah satu prioritas utama dalam program pengembangan kawasan wisata berkelas dunia, ditandai dengan peletakan batu pertama Jalur Lingkar Kaldera Tengger (JLKT) di kawasan TNBTS, Senin (13/4/2026).
Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) Kementerian Kehutanan, Satyawan Pudyatmoko, menyebut langkah ini bagian dari strategi besar pengelolaan taman nasional secara terintegrasi. Dari 57 taman nasional yang ada di Indonesia, beberapa di antaranya ditargetkan naik kelas ke level dunia.
“Pemerintah memiliki target menjadikan sejumlah taman nasional di Indonesia sebagai kawasan berkelas dunia dan Bromo Tengger Semeru menjadi salah satu prioritas utama,” kata Satyawan.
Ia menegaskan pembangunan JLKT tidak sekadar berorientasi pada pariwisata. Proyek ini juga mencakup aspek ekologi, perlindungan flora dan fauna, tata air, serta pemberdayaan ekonomi masyarakat sekitar kawasan.
“JLKT itu menjadi instrumen strategis untuk menyelaraskan berbagai kepentingan, mulai dari konservasi hingga ekonomi masyarakat,” katanya.
Satyawan menekankan bahwa penghormatan terhadap masyarakat lokal, budaya, dan kearifan lokal merupakan prinsip utama dalam pengelolaan kawasan konservasi. Identitas budaya Tengger harus tetap menjadi bagian tak terpisahkan dari pengembangan kawasan.
“Saya berharap pembangunan JLKT menjadi langkah awal transformasi kawasan wisata Bromo menuju pengelolaan yang berkelanjutan. Jika alam terjaga, maka masyarakat akan sejahtera. Budaya tetap lestari dan kawasan ini bisa dinikmati generasi mendatang,” ujarnya.
Bupati Probolinggo Mohammad Haris turut menyoroti urgensi keseimbangan antara pelestarian dan pengembangan.
Jalur kaldera yang akan ditata sepanjang 13 kilometer itu diharapkan mampu menjawab tekanan wisatawan yang terus meningkat tanpa mengorbankan alam dan budaya setempat.
“Kami melihat itu sebagai titik awal untuk menjaga keberadaan Bromo. Jalur kaldera itu nantinya akan ditata sepanjang 13 kilometer sehingga mampu menjaga keseimbangan antara wisatawan yang terus meningkat dengan kelestarian alam dan budaya,” kata Haris.
Ia mengingatkan kawasan Bromo bukan hanya aset ekonomi dari sektor pariwisata, melainkan juga memiliki nilai spiritual dan budaya yang harus dijaga bersama oleh semua pihak.