Home / Agama / Artikel

Kamis, 5 September 2019 - 19:07 WIB

Kenapa Kita Harus Bersyukur

Grateful. (Foto IST/EKG Technician Salary)

Grateful. (Foto IST/EKG Technician Salary)

Oleh: Amin*

Orang yang bersyukur bukan diukur dari sedikit atau banyaknya rezeki yang kita dapatkan. Tetapi untuk mengingatkan kita bahwa segala sesuatu yang kita dapatkan itu berasal dari yang Maha Agung. Itu pun menjadi nilai lebih bagi diri kita sendiri, karena setidaknya kita masih diperhatikan oleh Allah SWT.

Bangsa Yahudi adalah kaum yang paling banyak mendapat nikmat dari Allah, namun mereka jugalah kaum yang paling tidak pandai bersyukur. Seperti dilansir dari NU Online,  “syukur” berarti membuka dan menampakkan, dan lawan katanya adalah “kufur” yang bermakna menutup dan menyembunyikan. Ini artinya hakikat syukur adalah menampakkan nikmat dengan cara menggunakannya pada tempatnya dan sesuai dengan yang dikehendaki oleh pemberinya, juga dengan cara menyebut-nyebut pemberinya dengan baik.

Baca Juga :  Hati-hati bagi Ibu Hamil yang Suka Ngopi, Ini 3 Bahayanya

Syukur di antaranya juga merupakan salah datu sifat dari sifat-sifat Allah yang husna. Yang berarti Allah akan membalas setiap amalan kebaikan yang dilakukan oleh hamba-Nya tanpa terkecuali. Dalam Surat Asy-Syura ayat 23, Allah berfirman; Sesungguhnya Allah itu Ghafur dan Syakur.

Syakur dalam hal ini berarti Allah maha pembalas kebaikan. Jadi, tidak tidak diragukan lagi bukan kalau Allah sudah Maha Memberi Kebaikan, sehingga patutlah kita bersyukur sebagai hamba-Nya.

Syukur ini juga dimiliki oleh para nabi dan rasul Allah. Terbukti dalam firman Allah dijelaskan  bahwa, “(Yaitu) anak cucu dari orang-orang yang Kami bawa bersama-sama Nuh. Sesungguhnya Nuh adalah hamba yang banyak bersyukur” (QS. Al-Isra: 3).

Sifat syukur pun dibuktikan oleh nabi kita bersama, Muhammad SAW. Dalam sebuah riwayat diceritakan oleh Ibunda ‘Aisyah Radhiallahu’anha, “Rasululloh Shallallahu’alaihi Wasallam biasanya jika beliau shalat, beliau berdiri sangat lama hingga kakinya mengeras kulitnya. ‘Aisyah bertanya, ‘Wahai Rasululloh, mengapa engkau sampai demikian? Bukankan dosa-dosamu telah diampuni, baik yang telah lalu maupun yang akan datang? Rasululloh besabda: ‘Wahai Aisyah, bukankah semestinya aku menjadi hamba yang bersyukur?’”  (HR. Bukhari No. 1130, Muslim No. 2820).

Baca Juga :  Untuk Masalah Kewanitaan, Tiga Minyak Ini Paling Diminati Perempuan

Jadi, apakah kita masih malas bersyukur? Atau malah sok menganggap semua itu adalah hal yang biasa saja, padahal nabi saja yang dosanya sudah dipastikan diampuni masih saja bersyukur. Maka bersyukurlah dan tak mengingkari nikmat yang telah Allah berikan. Semoga bermanfaat.

* Redaktur Surau.ID. Mahasiswa Semester III STIT Al Karimiyyah Beraji, Gapura, Sumenep. Aktivis LPM Dialektika.

Share :

Baca Juga

Artikel

Sehat Tidak Minum Kopi Sebelum Sarapan?
Dakwah

Agama

Dakwah Hari Ini Tak Mencerminkan Dakwah Zaman Dulu

Artikel

Meski Menyegarkan, Jus Jeruk Terlalu Sering Itu Bahaya!
Asta Garincang

Agama

Ratusan Warga Longos Lakukan Tawassul Doakan Keselamatan Desa dan Kades
Minyak Paling Diminati Perempuan

Artikel

Untuk Masalah Kewanitaan, Tiga Minyak Ini Paling Diminati Perempuan

Artikel

Karapan Sapi, Budaya Warisan Madura

Artikel

Berikut 6 Penyebab Utama Hipertensi

Artikel

3 Khasiat Beras Merah dari Cina