CIANJUR (Surau.ID) – Warga Kampung Maleber, Cianjur memanfaatkan surutnya air Waduk Cirata menjadi lahan pertanian produktif yang menghasilkan beragam komoditas hortikultura bernilai ekonomi.
Pemanfaatan area mengering seluas puluhan hektar ini menjadi ladang tanaman seperti cabai, mentimun, labu, terong, hingga kacang panjang oleh masyarakat setempat, Sabtu (19/9/2026).
Skema bercocok tanam ini memberikan keuntungan ekonomi melimpah bagi para penggarap. Lahan pasang surut tersebut disulap menjadi kawasan perkebunan hijau produktif sepanjang musim kemarau.
Keunggulan Kesuburan Alami Tanah Waduk
Tanah bekas dasar waduk memiliki karakteristik kaya nutrisi alami. Petani tidak perlu mengaplikasikan pupuk tambahan untuk menjaga pertumbuhan tanaman di kawasan tersebut.
“Penggunaan pupuk secara berlebihan bahkan berisiko merusak hingga mematikan tanaman karena kadar nutrisi tanah yang sudah sangat tinggi,” ujar salah seorang petani, Endang.
Pengurangan biaya operasional pupuk memangkas modal tanam secara signifikan. Meskipun demikian, kuantitas hasil panen yang didapatkan para petani tetap sangat melimpah.
Ancaman Fluktuasi Air dan Mitigasi Petani
Aktivitas pertanian di dasar waduk tetap memiliki risiko fluktuasi debit air. Kenaikan air mendadak berpotensi memicu gagal panen massal seperti tahun sebelumnya.
Para petani Kampung Maleber mengantisipasi risiko tersebut dengan memperhitungkan siklus air secara cermat agar panen selesai sebelum debit air naik kembali.
Pemanfaatan lahan surut Waduk Cirata menjadi bukti ketangguhan dan kejelian petani lokal dalam membaca peluang alam secara bijak.