JAKARTA (Surau.ID) – Memasuki usia 60 tahun pada 17 September 2026, Korps HMI-Wati (Kohati) menegaskan komitmennya untuk terus bertransformasi menghadapi dinamika perkembangan zaman.
Sebagai ruang kaderisasi bagi HMI-Wati, Kohati telah melahirkan banyak figur penting di berbagai bidang. Momen refleksi ini tidak hanya menjadi perayaan seremonial, tetapi penanda kematangan organisasi.
Tantangan era digital, kecerdasan artifisial, hingga krisis iklim menuntut Kohati untuk tidak terjebak dalam rutinitas administratif maupun romantisme sejarah.
Penguatan Kaderisasi dan Transformasi Pergerakan
Organisasi yang hidup harus mampu membaca arah perubahan tanpa kehilangan nilai dasarnya. Kaderisasi Kohati difokuskan untuk membentuk daya kritis dan keberanian kader dalam memproduksi gagasan.
Kader HMI-Wati didorong tidak sekadar menjadi objek pergerakan, tetapi hadir sebagai pemimpin yang berani mengambil keputusan dan memengaruhi lingkungan sosial secara positif.
Peran Strategis dalam Produksi Pengetahuan
Medan pergerakan perlu diperluas ke arah epistemik melalui riset keperempuanan, isu iklim, hingga keamanan digital demi menjawab kebutuhan pembangunan bangsa.
“Gerakan perempuan tidak akan berdaulat jika perempuan hanya sebatas menjadi objek pembicaraan,” ujar Fauzia Noorchaliza, Wabendum Kohati PB HMI.
Menuju Indonesia Digdaya, Kohati berkomitmen mencetak perempuan intelek dan beretika yang siap menjadi aktor utama agenda kebangsaan. Perjalanan enam dekade ini menjadi fondasi kokoh untuk terus relevan.