Neo Khawarij Kaum Milenial

Oleh: Moh Amin Rais*

Sosial media menjadi sarana pergaulan sosial secara online di internet. Di dalamnya kita bisa berkomunikasi, berinteraksi dan berbagai kegiatan lain yang bisa kita lakukan. Tidak menutup kemungkinan, sosial media ini menjadi kebutuhan yang harus dipenuhi, bukan hanya dari segi interaksi antar teman atau kerabat saja, tetapi media informasi yang saat ini menuntut kita agar tidak ketinggalan zaman.

Informasi yang kita serap banyak menimbulkan berbagai pertanyaan dan bahkan juga banyak menimbulkan pemahaman yang kurang sejalan. Akibatnya, penggunaan sosial media saat ini yang gencar dilakukan utamanya pada kaum milenial yang menjadi ketergantungan terhadap sosial media begitu memprihatinkan.

Hal ini seringkali dimanfaatkan oleh segelintir kelompok yang inginkan negeri ini seperti Irak, Syuriah dan berbagai negara di luar sana yang menyebabkan anak mudanya digiring melalui informasi yang tidak jelas kebenarannya alias Hoaks

Kelompok ini seringkali membawa nama agama di setiap kegiatan atau informasi yang mereka sebarkan. Berbagai isu yang ditampakkan membuat kaum milenial semakin sulit membedakan yang benar dan salah. Di antaranya tidak mempercayai pemerintahan terpilih juga mengolok-olok ulama dengan sebutan yang tidak pantas, supaya mereka (para anak muda) penerus bangsa bisa gampang dimainkan ketika otak mereka sudah dipenuhi dengan ketidakpercayaan kepada pemerintah dan ulama.

Kelompok ini memang sejak zaman dahulu muncul ketika masa Khulafaur Rasyidin, pada masa Sayyidina Ali tepatnya. Mereka menamai kelompok mereka dengan sebutan Khawarij, orang-orang yang keluar dari kelompok Sayyidina Ali.

Kabarnya kelompok Khawarij ini akan tetap muncul hingga akhir zaman sebagaimana dijelaskan dalam sebuah hadis.

“Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sendainya kalian membunuhnya (seorang Khawarij) maka fitnah yang pertama dan terakhir kalinya”. (Shahih. Diriwayatkan Ahmad 5/42, Ibnu Abi Ashim dalam As-Sunnah No. 938).

Dan dalam hadis Anas, Nabi bersabda kepada Ali bin Abi Thalib:
“Sesungguhnya ini adalah generasi umatku yang pertama kali muncul, seandainya engkau membunuhnya, tidak akan ada dua orang yang berselisih”. (Hasan. Riwayat Abu Ya’la dalam Musnadnya 6/340-341/2668).

Kelompok ini memang sering menjadi biang kerok sejak zaman pemerintahan Sayyidina Ali hingga hari ini. Beberapa isu dan fitnah yang diluncurkan terhadap kondisi negara dan agama menimbulkan kerusakan dan malapetaka. Tentu sasaran mereka ialah para kaum milenial, yang sangat mudah diprovokasi dan tidak memiliki pegangan.

Fitnah dan isu yang disebarkan kaum Khawarij ini memang sulit dipatahkan. Maka tak heran orang yang bisa keluar dari doktrin dan isu yang mereka canangkan mengungkapkan rasa syukur yang sedalam-dalamnya. Dalam sebuah riwayat Imam Abul Aliyah mengatakan: “Saya telah membaca Al-Qur’an sepuluh tahun setelah wafatnya Nabi kalian. Sungguh Allah telah menganugerahkan kepadaku dua nikmat, saya sendiri tidak tahu mana di antara dua nikmat tersebut yang lebih mulia; Allah memberiku hidayah Islam dan tidak menjadikanku seorang Haruri”. (Shahih. Dikeluarkan Abdur Razzaq 10/153, Ibnu Sa’ad 7/114 dan Al-Lalikai: 230).

Tentu menjadi pertimbangan bagi kita semua, bagi kaum milenial yang sangat rentan tanpa adanya pendampingan. Maka sangat perlu kiranya penyuluhan yang baik untuk membentengi para kaum milenial ini. Di antaranya pesantren, ormas agama yang memiliki peran penting seperti halnya NU lewat Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama, juga di Muhammadiyah melalui Ikatan Pelajar Muhammadiyah dan kajian keilmuan yang membuat mereka terarah ke jalan yang lebih baik.

* Redaktur Surau.ID. Mahasiswa Semester III STIT Al Karimiyyah Beraji, Gapura, Sumenep. Aktivis LPM Dialektika.

Bagikan!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *