Home / Puisi / Sastra

Jumat, 6 September 2019 - 21:41 WIB

Ngangen, Saat Dunia Transparan

Missing. (Ilustrasi IST/Shutterstock)

Missing. (Ilustrasi IST/Shutterstock)

Puisi-puisi Mohammad Suhaidi*

Ngangen

Hari ini
Engkau lembur di kepalaku
Mengerjakan banyak hal yang kunamai sebagai rindu

Dan entah aku lapar atau tidak.
Yang jelas, aku uring-uringan menghadapi keinginan dan kedinginan tanpa engkau

14 Agustus 2019

Saat Dunia Transparan

Saat dunia transparan
Dan engkau tersenyum
Dadaku tiba-tiba menjadi palung dengan ombak besar
Bergemuruh, menghantam karang-karang iman

Saat dunia transparan
Matamu, warna kopi yang paling aku suka
Dan aku yang melihatmu
Gemetaran

Baca Juga :  Air Jatuh

Saat kau jauh dan dunia yang transparan
Aku bisa melihat engkau di kejauhan
Sedang duduk, menimbang apa yang hendak dikerjakan
“Merindu, atau mati”

15 Agustus 2019

Apa yang Mestinya Kutakutkan?

Selagi aku memperbaiki engkau dalam setiap keadaan
Ketakutan menyelinap diam-diam dalam pikiran
Membungkam keramaian serupa pasar di kepalaku

Kemudian langit tak lagi biru,
Jalan tak lagi panjang
Dan semua yang kulakukan hanya menjadi kesalahan

Ada yang berkata,
“Dia bukan kuda, jadi tak butuh tali kekang”
Kesadaran adalah dasar dari segalanya

Baca Juga :  Rato

Saat kebuntuan menghampiriku dalam menulis puisi cacat ini
Sebuah kata-kata menghambur ke telingaku
“Percayalah, tak seorangpun betah berlama-lama menunggu di stasiun kota yang pengap. Ia akan memilih apapun yang mampu mengantarnya dengan jaminan selamat sampai tujuan”
Jadinya tak hanya tubuh, otakku juga keriput

Giliyang, 14 Agustus 2019

*Penduduk asli Pulau Giliyang, Kecamatan Dungkek, Sumenep.

Share :

Baca Juga

Puisi

Rato

Puisi

Pusar Laut
Woman

Puisi

Perempuan Langit, Purnama Maskawinku
Makan Bakso Berdua

Cerpen

Perempuan yang Memecut Punggung Lelaki

Puisi

Laut Membawamu Pergi

Puisi

Air Jatuh
Rintik Rindu

Puisi

Rintik Rindu, Story, dan Baka
Pergi

Puisi

Aku Pergi