Cropped Red S Simbol.webp
Surau.ID •
05 Mei 2026 | 12:03 WIB
Nasional

Olah Limbah Pangan MBG, BRIN: Potensi Bernilai dengan Ekonomi Sirkular

IMG
Peneliti Ahli Madya Pusat Riset Kesehatan dan Gizi Masyarakat BRIN, Basuki Rachmat saat menjelaskan pengelolaan limbag pangan MBG (Foto: Tangkapan Layar YouTube BRIN).

 

JAKARTA (Surau.ID) – Pengelolaan limbah pangan dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG) menjadi aspek krusial untuk mendukung keberlanjutan lingkungan sekaligus meningkatkan nilai ekonomi.

Peneliti Ahli Madya Pusat Riset Kesehatan dan Gizi Masyarakat BRIN, Basuki Rachmat menegaskan limbah pangan Makan Bergizi Gratis (MBG) berpotensi memiliki nilai ekonomi melalui pendekatan ekonomi sirkular.

“Limbah pangan dalam program MBG memiliki potensi besar untuk diubah menjadi sumber daya bernilai melalui pengelolaan yang tepat. Pendekatan ekonomi sirkular menjadi kunci utama,” terang Basuki dalam webinar bertema Peran Strategis Kesehatan Lingkungan dalam Mendukung Keberhasilan Program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Secara umum, Basuki mengungkapkan Indonesia menghadapi tantangan besar terkait limbah pangan. Pasalnya, produksi limbah pangan di Indonesia mencapai 23 hingga 48 juta ton per tahun.

“Sebagian besar berasal dari rumah tangga dan berdampak pada aspek lingkungan, ekonomi, dan sosial. Karena itu, pengelolaan yang tepat menjadi sangat penting,” jelas Basuki.

Untuk membuat limbah pangan MBG memiliki nilai ekonomi, kata Baduki,, kata Basuki, perlu mengoptimalkan pengelolaan melalui pemanfaatan teknologi mutakhir dan pendekatan ekonomi sirkular, sehingga setiap sisa makanan dapat diubah menjadi sumber daya bernilai tinggi. Menurutnya, pendekatan ekonomi sirkular menjadi solusi utama dalam pengelolaan limbah pangan. 

“Prinsip reduce, reuse, recycle, dan recover harus diterapkan untuk meminimalkan limbah serta memaksimalkan pemanfaatan sumber daya. Dengan cara ini, limbah tidak lagi dianggap sebagai sisa, melainkan sebagai bahan yang dapat dimanfaatkan kembali,” katanya. 

Basuki juga memaparkan berbagai teknologi yang dapat digunakan untuk mengolah limbah makanan menjadi energi.

“Teknologi pirolisis, gasifikasi, pencernaan anaerobik, dan hidrotermal karbonisasi mampu mengubah limbah organik menjadi produk bernilai seperti biogas, biochar, serta energi listrik,” ungkapnya. 

Selain teknologi modern, ia menilai metode sederhana tetap relevan, terutama untuk skala kecil, seperti melalui komposting, penggunaan bioaktivator, maupun pemanfaatan larva Black Soldier Fly (BSF) yang mampu mengubah limbah menjadi pakan ternak dan pupuk. 

Ia menambahkan bahwa pemilihan metode pengolahan harus disesuaikan dengan kebutuhan dan kapasitas. Pasalnya, Basuki menjelaskan, setiap teknologi memiliki karakteristik, biaya, dan efektivitas yang berbeda.

“Karena itu, pemilihan metode harus mempertimbangkan skala, jenis limbah, serta sumber daya yang tersedia,” tuturnya. 

Basuki menegaskan bahwa pengelolaan limbah pangan yang optimal tidak hanya mengurangi beban lingkungan, tetapi juga memberikan manfaat ekonomi.

“Dengan pengelolaan yang tepat, limbah pangan dapat diubah menjadi energi atau pupuk, sekaligus menekan emisi dan meningkatkan efisiensi pemanfaatan sumber daya,” pungkasnya.

Penulis: Roz
Editor: Redaksi Surau.ID
TAGS
White Surau
PT. SURAU NUSANTARA GROUP
Perum D’Tanjung Raya, Gang Alamanda, Blok S5, Karanganyar, Paiton, Probolinggo, Jawa Timur 67291

Langganan

Dapatkan artikel atau tulisan terbaru dari Surau.id
Copyright © 2026 Surau.id