PROBOLINGGO (Surau.ID) – Kiai Muhammad Al-Fayadl mengajak para mahasiswa untuk merenungkan kembali tujuan utama kehidupan agar tidak sekadar mengikuti arus tanpa arah yang jelas.
Pesan tersebut disampaikan beliau saat memimpin pengajian Kitab Minahus Saniyah pertemuan ke-23 di Pondok Mahasiswa Universitas Nurul Jadid, Probolinggo.
Beliau menekankan pentingnya kesadaran diri agar perjalanan hidup seseorang memiliki fondasi yang kuat serta terarah sesuai syariat.
Menata Arah Menuju Rida Illahi
Perjalanan menuju Allah bukan sekadar menumpuk ilmu dan memperbanyak amal, melainkan upaya melepaskan segala hal yang dapat menghalangi keterikatan hati. Ilmu, amal, dan pahala pada hakikatnya merupakan sarana perantara, sedangkan rida Allah merupakan tujuan tertinggi yang harus dikejar oleh setiap insan.
Kiai Fayadl mencontohkan kisah Nabi Ibrahim AS yang senantiasa merenungkan kebesaran Pencipta hingga mantap mengarahkan seluruh hidupnya hanya kepada Allah semata.
Makna Zuhud dan Pembatasan Diri
Penghalang terbesar bagi kebersihan hati adalah kecintaan yang berlebihan pada kemewahan duniawi. Oleh karena itu, penerapan sikap zuhud menjadi kunci penting agar manusia tidak mudah tergiur oleh sesuatu yang sebenarnya tidak ia butuhkan.
“Dunia ini adalah sesuatu yang tidak dibutuhkan melebihi kebutuhan kita. Sesuatu yang hanya menjadi koleksi, hiasan, dan kemewahan yang tidak benar-benar kita perlukan,” ujar Kiai Muhammad Al-Fayadl.
Melalui pemahaman zuhud yang tepat, seseorang tetap dapat beraktivitas dan memenuhi kebutuhan hidupnya tanpa harus mengorbankan ketenangan jiwa. Pembatasan diri ini menjadi benteng utama agar hati tetap murni dan terus berorientasi pada nilai-nilai kebaikan akhirat.