Perempuan yang Memecut Punggung Lelaki

Oleh: Qiey Romdani*

“Mas! Kapan suksesnya?” Pertanyaan yang selalu diulang-ulang sampai telingaku mendadak ledak. Ada hawa malu menusuk ulu hati, bagaimana mungkin seorang lelaki muda yang bergantung pada orang tua langsung sukses seketika. Bukan hanya mungkin, melainkan fakta seorang lelaki sukses pada usia muda. Pertanyaannya, apakah itu aku?

Bagi seorang lelaki meski belum sah secara agama atau negara, namun kewajiban dan tanggungjawab membahagiakan pasangan lebih penting daripada membahagiahkan dirinya sendiri. Bahkan, yang terpikirkan adalah bagaimana membelikan makanan favorit meskipun dirinya memakan sisa bangkai milik orang.

“Iya, Dik. Suatu saat nanti Masmu akan sukses dan kamu adalah anugerah motivasiku,” jawabku pada setiap pertanyaannya.

“Mas kerja apa?” Wajahku berkerut mendengarnya. Seorang lelaki memikul tanggung jawab yang besar. Selain berbentuk non materi, berupa senyum, mengajaknya bernostalgia, bahagia, tanggung jawab itu juga secara materi, yaitu uang. Di dunia ini mendapatkan kertas bertuliskan nominal rupiah bukanlah hal sepele. Ada keringat bercucuran dan meluangkan banyak waktu bersama hanya berkerja demi mendapatkan penghasilan secara halal. Pertanyaannya, apakah dengan penghasilanku sekarang masih kurang memenuhi kebutuhannya saat bertemu dan bernostolgia?

“Mas kerja sebagai editor penerbit freelance di berbagai penerbit Indie skala nasional.”

“Iya. Semoga membawa kesuksesan.” Itulah akhir dari ucapannya. Entah, apa yang dipikirkannya selama ini? Meskipun penghasilan yang didapat masih jauh dari penghasilan pegawai negeri, namun bagi seorang pemuda berumur 20 tahun mendapat penghasilan rata-rata 100-200k setiap bulan, menjadi momen bahagia yang pernah ia rasakan.

***

Aku adalah orang desa, tak sempurna, dan sederhana. Berkat seorang perempuan, seolah aku menjadi lelaki paling sempurna di dunia ini. Kami menjalin sebauh pasangan hampir dua tahun. Luka, duka, air mata, dan bahagia mengiringi perjalan kehidupan yang masih panjang.

Dalam sebuah hubungan, lelaki menjadi pangkuan perempuan dalam berbagai hal, terutama yang terpenting adalah uang. Melihat perjalanan kehidupan yang dinamis, seorang perempuan mudah jatuh cinta jikalau ia mendapatkan seorang cowok kaya raya. Hal yang terpikirkan, uang adalah segalanya. Perempuan adalah makhluk yang paling manja. Ia berlayar melalui sekoci manja untuk mengukur kedalaman lautan uang. Tidak menutup kemungkinan, uang menggatikan Tuhan dalam perspektif hubungan.

“Apakah Adik seperti mayoritas perempuan manja?” Aku bertanya dalam hati. Malam menjadi saksi. Remang-remang bulan dan bintang mengintip di antara celah awan. Angin menyapaku membawa suara dering ringtone ponsel dekat meja besi memanjang berwarna hitam. Sedikit malas kuangkat, dan meletakkan di antara kupingku paling kanan.

“Mas?” ucapnya dari arah seberang.

“Iya, Dik. Ada apa?” Jawabku seolah tidak tahu. Sebenarnya, aku sudah tahu jalan pikirannya, yaitu rindu. Ya, dia sering bilang rindu. Siapa yang tidak rindu? Sepasang kekasih memadu cinta yang jaraknya pun sangat jauh. Hanya rindu yang bisa dititipkan di antara kami.

“Aku ingin bakso jumbo, Mas!” Tiba-tiba ludahku tertahan.

“Adik pasti bercanda `kan?” Jawabku ngeles.

“Aku gak bercanda, Mas. Pokoknya dalam tiga hari ini gak ada bakso, aku gak akan pernah menghubungimu lagi.”

Ponselnya mati. Di sana menutupnya sendiri. Sekejam itukah perempuan pada lelaki? Ludah bukan tertahan, melainkan mencekik leherku sendiri. Secepat itukah ia mengibas-ngibaskan perasaan hanya semangkok bakso jumbo? Ya, meski tidak terlalu mahal, namun buatku menghabiskan pundi uang di dompet. Mana tega membelikan makanan kekasih dari hasil rayuan termanis pada orang tua. Pantang bagiku mengemis uang lembaran biru hanya untuk memanjakan pujaanku. Toh bukannya uang itu akan kupakai sendiri, bukan dipakai orang tua.

Untung beberapa hari ini masih ada job naskah yang selesai kuedit sebelumnya. Tinggal bagaimana meminta fee dari hasil kerjaku. Kemudian ku-chat  kontak beberapa pemred yang pernah kutangani naskahnya.

“Maaf, Qiey … beberapa fee-mu masih belum keluar sampai selesai PO.”

“Iya, Kak. Gak apa-apa,” balasku lemas.

Sekejam itukah kehidupan saat ini. Beberapa Pemred dan Owner pun sama menanggapi chat-ku. Memang, aku masih tergolong baru dunia penerbitan. Dalam ketentuan khusus penerbit indie, fee bisa diambil dalam waktu sebulan saat naskah yang ditangani selesai cetak.

Entah, aku harus apa? Waktu bergulir demikian cepat, secepat roda yang berputar melewati jalan beraspal. Dua hari ini belum bisa mendapatkan uang demi membahagiahkan kemanjaan kekasihku. Aku berpikir, ia adalah ratu di atas ratu, tapi aku adalah budak di bawah budak. Namun, tak sedikitpun perasaan ini marah padanya, bahkan selalu mentraktir saat gaji editorku cair seperti air mengalir.

“Ingatlah, di mana pun hati Anda berada, di sanalah Anda menemukan harta Anda (The Alchemist).” Perkataan itu terus tergiang. Hati adalah harta terbesar setiap hubungan. Kuambil ponselku untuk menghubungi salah satu penerbit Smarta Publisher.

“Maaf, Kak … apakah aku boleh meminjam uang 50k?”

“Boleh, Qiey … saya akan kirimkan. Namun, 50k itu akan terpotong fee-mu di penerbit ini.”

“Baik, Kak. Terima kasih. Maaf, merepotkan.”

Tak lama kemudian, sms BRI masuk. Di layar tertera nominal Rp50.000. Kebahagiaan yang tak bisa kulukiskan lewat secarik kertas bertinta.

“Tunggu besok ya, Dik. Masmu dapat uang!” kataku dalam hati sembari tersenyum sumringah.

***

Hari yang ditunggu menjadi kisah nyata. Di warung Bakso 99 Sumenep menjadi saksi kisah sepasang kekasih memadu cinta dan mengorbankan tenaga maupun jasa demi kemanjaan pujaannya. Dua mangkok bakso jumbo dan dua jus buah naga tersedia di meja makan kami. Aku menatap bola matanya dikit memerah. Entah, kurang tidur atau selesai menangis? Dia menatapku sembali tersenyum. Senyum khas kebahagiaan yang selalu dirindukan saat aku di luar kota. Namun, dia masih saja tersenyum tanpa menyentuh sedikit mangkok di depannya. Uap panas menguap di depannya tanpa dia sadari. Apakah ini dikatakan cinta itu buta?

“Ada apa, Dik?” Tanyaku penasaran. Dia gelagapan saat pertanyaanku membuyarkan lamunannya.

“Eh, gak ada! Terima kasih aja.”

“Iya. Sudah menjadi tanggung jawabku menyisihkan sebagian uang untuk kita.”

“Tapi …,” ucapnya memotong.

“Ketika kita melakukan yang terbaik yang kita bisa. Kita tidak pernah tahu keajaiban apa yang terjadi dalam kehidupan kita, atau dalam kehidupan orang lain (Hellen Keller),” jawabku sok bijak.

Dia tersenyum, aku pun juga sama. Kami memakan bakso yang sudah hampir mendingin. Tiba-tiba pikiranku mengatakan, “Perempuan yang memecut punggung lelaki yang dicintainya dengan hanya semangkok bakso.” Tanpa sadar tenggorakanku tersendat. Apakah aku berpikir sambil makan dan tertawa. Seketika ia mengambilkan minuman es dan mengelap sisa belepotan bakso di mulutku.

Pamekasan, 08 September 2019

* Penulis, Editor Penerbit dan mahasiswa aktif jurusan Hukum Ekonomi Syariah di IAIN MADURA.

Bagikan!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *