Perihal Rindu

Oleh: Hendy Pratama*

SALMA memandang foto Riyanto dengan pandangan sayu. Tatapan matanya lemah. Selemah pohon sawi yang layu diterpa hujan dan panas berkali-kali. Sesekali nada suaranya tersendat-sendat. Air matanya terurai ke bawah. Ponselnya menyala terang. Terpampang foto Riyanto dengannya di sebuah pantai. Tak ada sepatah kata yang keluar dari mulutnya selain, “Aku rindu kamu.”

Pada teriknya matahari yang menyengat ubun-ubunnya, Salma masih berdiam diri di teras rumahnya. Perempuan berusia dua puluh empat tahun itu nampak menyendiri pada kerumunan ibu-ibu yang sedang membeli sayur ke pedagang—yang berjualan di depan rumahnya.

Di tengah-tengah lamunannya, tiba-tiba seorang perempuan datang menyapa, “Hai, Ma. Lagi ngapain kamu?”

“Eh, enggak lagi apa-apa kok, Lis,” jawab Salma, kaget.

“Kamu jangan bohong!” seru Listi.

“Matamu sayu. Tubuhmu lemah. Kamu nangis. Pasti ada apa-apanya,” celetuk Listi sembari menghampiri Salma di teras. Ia meletakkan barang belanjaannya di lantai.

“Aku lagi rindu, Lis.”

“Rindu sama siapa?”

“Riyanto.”

“Oh, Riyanto suamimu itu ya?”

Salma tak menjawab. Ia kembali memandang foto itu. Kenangannya bersama Riyanto perlahan memenuhi ruang kosong di benaknya.

Perihal rindu memang tak bisa dibohongi. Riyanto meninggalkan Salma sejak tiga bulan yang lalu—tepatnya saat mereka berdiskusi tentang keuangan keluarga. Surabaya menjadi tempat Riyanto mengundi nasib. Mencari pekerjaan untuk memenuhi tanggung jawabnya sebagai tulang punggung keluarga.

“Aku tak ingin kehidupan kita seperti ini terus,” terang Riyanto pada saat itu, “aku juga ingin seperti Burhan yang kaya raya. Hidupnya tercukupi. Anak-anaknya pun juga merasa bahagia.”

“Tapi, aku bakal sendirian,” sedih Salma.

“Kita ‘kan serumah dengan ibu. Tak mungkin kau merasa sepi karena sendiri,” jelas Riyanto, menenangkan Salma.

“Lalu, bagaimana jika ada penjahat yang datang ke rumah?”

“Salma, kau jangan berpikiran negatif! Percayalah, rumah kita bakal aman. Tak ada seseorang pun yang akan menyakitimu. Jangan khawatir, Aku akan cepat pulang kok!”

“Beneran ya, sayang?”

“Iya, sayang.”

***

ANGIN berhembus menerpa Salma dan Listi. Angin itu membawa pikiran Salma berhamburan. Ia membayangkan perihal pertemuannya dengan Riyanto. Mereka berdua bertemu di SMA Raden Fatah. Di usianya yang kedelapan belas tahun, mereka mengikrarkan cinta, hingga sampai merambah ke pelaminan. Kedua orang tuanya menyuruh mereka supaya menikah ketika lulus SMA.

Salma dan Riyanto sepakat. Akhirnya, mereka menikah di usia yang sangat belia. Pada awal-awal pernikahan, mereka merasa bahagia. Layaknya anak muda pada umumnya. Rasa cinta telah dipadukan pada ikatan yang sakral. Namun, di tahun-tahun berikutnya, Riyanto mulai gelisah, lantaran belum mendapatkan pekerjaan.

“Kalau begini terus, kita mau makan apa?” bingung Riyanto pada Salma. Mereka duduk di kursi jati teras rumah.

Salma membisu. Suaranya terkalahkan oleh hembusan angin pagi itu. Juga riuhnya pepohonan jati yang saling bergesekan.

“Aku mau cari kerja,” tegas Riyanto.

“Kamu mau cari pekerjaan di mana?”

Riyanto menatap istrinya. Kedua bola matanya menatap tajam ke arah Salma, seraya meyakinkannya sambil berucap, “Aku akan bekerja ke Surabaya, sayang. Sebab, bapak menyarankanku untuk bekerja bersama paman di sebuah pabrik tekstil yang ada di Surabaya.”

Salma menangis.

Ia tahu bahwa rindu bakal mengganggu.

***

“Sudahlah, Ma. Kau jangan bersedih terus. Riyanto bentar lagi pulang kok,” Listi menenangkan Salma.

“Aku perempuan, dikit-dikit bawa perasaan!”

“Iya, tapi gak segitunya juga kali, Ma.”

“Lis, kau pernah merasakan rindu gak? Rindu pada seseorang yang kau cintai. Seseorang yang menjadi bagian dari hidupmu.”

Listi bungkam. Ada perasaan lain yang tiba-tiba muncul. Tetapi, ia berusaha mengabaikan perasaan itu. Wajahnya masih secerah pagi ini. Dengan senyum yang selalu melekat, ia berucap, “Gak pernah aku.”

“Maka dari itu, kau tak tahu perasaanku.”

Listi terdiam.

“Lis, aku jadi ingat ucapan Riyanto sehari sebelum ia berangkat ke Surabaya,” Salma menyahut, Listi terkejut.

“Ehh, a-apa u-ucapannya?”

***

“Aku bakal cepat pulang,” kata Riyanto. Ia memegang tangan Salma. Mereka saling bertatap di ruang tamu. “Satu hal yang membuatku semangat bekerja adalah dirimu. Semua ini kulakukan untukmu, sayang.”

“Kau ini, besok mau pisah, masih aja sok romantis,” colek Salma ke Riyanto. Mukanya memerah.

“Iya dong. Hehehe.”

“Sayang, besok kau naik bus ya?”

“Iya. Aku akan naik bus kecil, transit ke terminal. Habis itu, aku baru menuju ke Surabaya, beristirahat di rumah paman.”

“Sayang, aku bakal rindu.”

Riyanto menepuk pundak Salma. Ada pandangan mata yang tajam seraya menyakinkan sesuatu, “Setelah tiga bulan, aku akan pulang. Di Surabaya aku akan magang selama tiga bulan, sayang. Setelahnya, aku akan bekerja tetap di sana.”

“Tiga bulan?”

“Iya, sayang. Cuma tiga bulan.”

***

SUASANA pagi ini terasa hangat. Sehangat pelukan Salma pada Riyanto. Tangannya memegang punggung Riyanto. Kedua pasangan itu nampak melampiaskan kerinduannya satu sama lain. Mereka sudah tiga bulan ini tak bertemu. Namun, kerinduannya sudah seperti setahun lamanya. Kerinduan Salam pada Riyanto sukses terlampiaskan tatkala matahari telah menyapanya bersamaan dengan butiran air mata yang perlahan mulai jatuh.

Di balik pohon jati di teras rumah Salma, Listi nampak haru menyaksikan kisah sepasang manusia yang bercumbu cinta. Listi tertegun. Ia menerawang ke angkasa perihal makna rindu. Baginya, rindu itu adalah menunggu. Menunggu sesuatu yang dicintainya datang, layaknya Salma yang menunggu kedatangan Riyanto.

Bagi Listi, tak ada obat rindu selain bertemu.

Diam-diam Listi mengeluarkan sebuah foto di balik sakunya. Foto seorang laki-laki yang sangat ia cintai. Ialah Joko. Laki-laki yang telah memilihnya menjadi teman hidup. Tiba-tiba, foto itu dibasahi oleh air mata. Pikiran Listi bercabang. Ia merasa tak seberuntung Salma. Dalam dinginnya pagi, ia menangis. Otaknya melogika; bertanya dalam hati, ‘Tatkala obat rindu adalah bertemu, lantas bagaimana denganku yang sedang merindukan seseorang yang telah mati?’

Madiun, Agustus 2017

Hendy Pratama* Hendy Pratama, lahir dan bermukim di Madiun. Bergiat di Komunitas Langit Malam dan Forum Penulis Muda IAIN Ponorogo. Heliofilia adalah buku kumpulan cerpennya yang akan terbit.

Bagikan!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *