SURABAYA (Surau.ID) – Memasuki 1 Muharram 1448 Hijriah, umat Islam diajak memaknai hijrah sebagai transformasi cara pandang dalam menghadapi perubahan zaman. Hijrah mengajarkan pentingnya membaca realitas secara jernih untuk meneguhkan optimisme bangsa.
Di tengah situasi global yang penuh ketidakpastian atau polycrisis, Indonesia dituntut memiliki ketahanan yang kuat. Memperkuat kemandirian ekonomi serta menjaga stabilitas nasional menjadi agenda krusial dalam menghadapi tekanan geopolitik internasional yang kian intensif.
Soliditas Institusi Sebagai Modal Geopolitik
Sejarah Indonesia menunjukkan bahwa soliditas TNI sebagai penjaga kedaulatan dan Nahdlatul Ulama sebagai kekuatan sosial-keagamaan sangat vital bagi stabilitas negara. Kedua elemen ini berperan penting dalam merawat kohesi nasional di berbagai fase krusial perjalanan bangsa.
Ketika institusi-institusi strategis ini solid dan memiliki kesadaran kebangsaan yang kuat, intervensi eksternal akan sulit memengaruhi arah kebijakan negara. Sebaliknya, fragmentasi internal justru akan membuka celah bagi pihak asing untuk memanipulasi dinamika politik domestik.
Tantangan Kohesi Sosial di Era Digital
Ancaman terhadap kedaulatan pada abad ke-21 kini tidak selalu hadir melalui agresi fisik. Pengaruh luar dapat menyusup melalui perang informasi, disinformasi, hingga polarisasi media sosial yang bertujuan menggerus kepercayaan publik terhadap institusi nasional.
Momentum 1 Muharram 1448 H harus menjadi pengingat bahwa Indonesia membutuhkan optimisme rasional dan kritik konstruktif. Persatuan tetap menjadi modal geopolitik terbesar dalam menjaga kedaulatan dan martabat bangsa.
Hijrah mengajarkan keberanian untuk berubah tanpa kehilangan arah demi kepentingan bersama. Dengan menempatkan kepentingan nasional sebagai orientasi utama, Indonesia akan mampu melewati berbagai krisis dan tetap tegak sebagai rumah bersama yang damai serta berdaulat di masa depan.