Home / Puisi / Sastra

Jumat, 11 Januari 2019 - 16:08 WIB

Tanah Jimat

Ilustrasi. (Foto Ist/Forum Pelajar Indonesia)

Ilustrasi. (Foto Ist/Forum Pelajar Indonesia)

Puisi Matroni Musèrang*

kubawa sebongkah tanah pertanian
dari kampung petani bernama tani
lalu kutaruh di pematang tegal dan sawah
kemudian kutanam biji rasa dan biji bahasa 

kini, mengapa kau semakin terpuruk diperbudak tamu
padahal nasibmu bagaimana kamu

apakah engkau ikut berdenyut di kampung lumut
menjunjung semestamu yang kusut
dan menguak kekayaan dari laut
lalu kau berlutut  

bukankah itu yang kita saut

mengapa tak jua kau tampakkan
keringatmu yang menghilang
Menyirami kearifan yang mulai usang

apakah karena darah tak mengalir
pikiran tak mendesir
tak sakit atau engkau tak merasa getir
padahal darah sudah mengalir

kau terlena pada setumpuk uang nyata
membiarkan yang lain meluka
tersingkir karena melata
pada segumpalan yang tak terbaca
itu rahasia

kini, aku menulis
melukis pohon hijau dan para petani yang menepis
terjepit di tengah apitan kapitalis
menjadi memori di depan cermin miris
berkaca melihat setumpuk uang berlapis-lapis
dan rahasia pun tetap setia pada pengemis
memangku jiwa yang menangis 

berhamburan senyum sinis melukis daun-daun
sesekali kekayaan menjadi raja dan tak henti-henti bertadan 
dalam sejarah kelam bersisa kesia-siaan  
dan daun emas harapan kosong dalam mimpi harapan

tembang mamaca yang kudengar nyata
merayap di atas cakrawala
menjelma orang-orang bersetia
menjelma orang-orang beretika
menjelma orang-orang ber-tèngka

gemericik air mengalir ke sawah-sawah
lalu tumbuh panen-panen megah
lalu kita saling menyapa lewat senyum para arwah

kebun-kebun nyeor kau rawat
kau jual untuk keluarga
kau ambil untuk makan ternak
kau bakar untuk genting dan gampin
sedang aku berjalan di samping
menjaga agar tanah tak terjamah orang lain

aku taburi asap keminyan
dengan harapan kau tetap nyaman
menjaga diri dan kebun ini tetap luman
dan tanah-tanah tetap subur aman  

siapa yang bilang Madura itu tandus?
pagerungan, songsongan,
gadding, pemekasan, menyeruak gas-gas alam
giliyang gemilang, toabang menjulang

aku ambil satu ladang untuk diriku sendiri
untuk menanam kemanusiaan yang membela diri
membela harkat dan martabat sungai Bai

aku menanam jagung, kacang ijo, dan kacang tanah
menambah kehijauan mata menghilangkan dahaga
di sawah aku menanam padi, tomat, cabai, dan tawa
aku lahir dari tanah Madura 

banjar timur tempat aku lahir dan berucap
banjar barat tempat aku menatap 
beraji tempat aku melahap 
jogja tempat aku menempa atap
gapura timur tempat aku dan isteriku menetap

malam sepi merebah dalam kesempatan
perkampungan-perkampungan dibiarkan
pikiran dan hati terlena oleh kemegahan

suramadu, tubuhmu mengandung banyak makna
padahal rahasia gelombang terbaca
seperti harimau dan anjing yang hendak menghisap segala
di manakah pikiran dan hatimu kau sita
bila kemiskinan bumi Madura kehilangan gas alam dan cara
dan kekayaan budaya dibumihanguskan dengan daya 

tonggak-tonggak sejarah tak memiliki akar yang dalam
jimat-jimat dibendung dengan gaya hidup yang muram
sawah-tegal ditanami gedung-gedung saham
tanpa daya dan raga dan para pemimpin diam 
menutup telinga mata terpejam
tak ada surau tergelar, tak ada tanèyan lanjang
tak ada tradisi yang berkepanjangan, tak ada karapan yang kusam
sumur-sumur tertutup sanyo, sungai-sungai diracun, tanah-tanah dijarah jajan 

di manakah pikiran dan hatimu kau selipkan
bila para penghisap diliarkan
bila para pembunuh dibiarkan
di manakah kiai dan pesantren berjalan
di manakah celurit emas berdandan

luka ini tambah lebar, berdarah pandan 
pohon-pohon gosong-melonglongkan
tanah-tanah menyempit kehabisan
lautan ramai dengan tambak, tempat cukong-cukong berkelindan

Madura pergi ke perkampungan kelam
Suramadu memberi jalan bagi prajurit kapital yang hendak mencekal kalam
di lautan budaya apakah aku harus belajar karam
di pulau cinta apakah aku harus mendirikan rumah ingatan  
bila di atas tubuhku kau tanami besi-besi karat dan beton-beton keangkuhan 
di atas besi karat yang panas, mata, pikiran dan hatiku terpanggang
oleh panasnya alam yang kian gersang

Baca Juga :  Pak, Imaji, dan Nay

di manakah pikiran dan hatimu kau selipkan
bila saran nurani kau buang ke comberan
cahaya pikiran digelapkan
yang lahir ego-ego gelap kau bukakan
kabut duka sepanjang masa menutup wajah jalan
aku menangis dari sajak keangkuhan

di depan mataku pohon memajang
tumbuh di atas tanah yang lapang
lewat pori-pori tubuhmu berlobang 
aku masuk di kedalaman perkampungan hujan
menoar pohon-pohon kecil tak berbuah rayuan

di detak paling sempurna
kau sempatkan menyuburkan tanah
menumbuhkan nyiur-nyiur kopyor yang lena

dari kebun dan pohon
pikiran dihidupkan
jiwa disuburkan

lalu, kutabur benih pupuk harapan
dari sebongkah biji-bijian
yang menuai buah-buahan

dari tanah ini kau makmurkan asa
dari tukang kebun kau sentosa
dari petani kau sejahtera
tubuhku menerjemahkan lolosan
yang berjalan menelusuri akar rumputan
di tengah gusaran tanah tanaman

setiap lolosan kau tanami satu, dua tiga biji-bijian 
harapan tumbuh panen-panen daratan
menciptakan keringat sapi karapan
menebarkan kesuburan benih-benih pasaran

kaki yang kau jejakkan
di kedalaman tanah pikiran
menyeruak rindu tepian 
pada sepasang sejoli yang kasmaran

pelepah kering yang menyisakan kesuburan sejarah baru 
airmata berubah menjadi batu
batu-batu itu pecah merindu
pada sepasang kupu-kupu yang ngilu

harapan yang dirindukan
doa yang dipanjatkan
mengolah benih-benih harapan
agar barokah panen tanaman

sepasang sapi nanggala
kau kalungkan para dewa
agar tak membawa bala di dada

desir angin para satwa
mengirim kabar tentang rawa
rumput hijau membara
jagung dan kacang tanah menimba
apa yang dirindukan penjaga
kalau bukan bagaimana dan siapa

aku pun pulang ke rumah ibadah
memulangkan bara yang tercecer terik dada

malam sudah kau selimuti
dengan bantal bintang pelangi
dan ranjang rembulan di kening hati

aku menghafal banyak desa dengan baik pula
di sini tanah-tanah dijual mengatur pikiran kita
lampu dan desa. cahaya hanya dalam jiwa manusia
yang tersimpan di perkampungan, di mana aku dan tuan tanah bersua

aku menghafal nama desa, kampung demi kampung
tanaman demi tanaman, benih demi benih, tikungan yang menunjuk ke arah jantung
yang menjanjikan kebahagiaan uang
di tanah-tanah yang dulu melahirkan abang
tempat anak-anak bermimpi, bermain tutu dan tek-keteggan
berjalan menginjak tanah orang asing, menyebut-nyebut nenek kita
yang kehilangan waktu dan masa depan
di persimpangan jalan menuju desa 
yang merujuk ke segala desa, ketika banyak anak desa tak peduli pada rasa
dan terasa bahwa tanah adalah diri kita
maka bersiaplah dengan keterasingan baru
di tengah suara-suara palsu

karena saya makan hasil tani
jagung, kacang tanah, kacang panjang, kacang-kacangan dan padi
karena saya hidup bersama tanah subur dan sumber minyak tak beli
dan kamu uang berlebih
maka saya bukan pelit tak memberi 

karena saya orang kecil
dan kamu orang dekil
karena saya sumpek di kota Cili
dan kamu pembuat polusi
maka saya curiga padamu Si
karena saya harus belajar pada kearifan kampung Gili
agar tak kebanjiran seperti ibu kota Bekasi
dan kamu berpesta di ruang ber-ac
karena saya bodohi
dan kamu masuk tanpa salam dan permisi
kamu suruh hanya memilih
tapi tak bisa berencana dengan jeli
kamu bebas menggunakan uang asli
karena saya haus sopan santun sejati
kepadamu aku tidak peduli
karena kamu manusia batu rasa yang tuli
saya adalah manusia air penuh bahasa dan tengka abadi
yang akan mengikismu sampai habis dan basi

Baca Juga :  Counter Attack

karena percaya keampuhan materi
dan yakin bisa membuat bahagia sampai mati
maka Madura di bor dan alamnya dieksploitasi
betapa pun, tanpa berpikir panjang lagi
Madura harus di buka untuk semua dasi
sebab, bandara sudah di buat asri
tentu bandara harus beroperasi
harus ada penumpang yang memodali
menuju tempat tujuan dan mencari hal dijual kembali
dan betapa banyak waktu senggang untuk berwisata ke Gili
dan bandara harus merebut orang-orang datang di sini
dan Madura
dengan segala kesenian, kebudayaan dan alam yang kaya-raya ini
harus bisa di hisap untuk dibawa ke luar Madura lagi
dan disuguhkan pada asing yang iri
pesawat airpazt siap membawamu pergi
ke sisi mana pun yang kau mau tempati
yang mengejutkan kebudayaan dan seni
begitu cepat hingga kita bengong tak berdali
begitu indah kita sekali
sementara kita diam tanpa memberi
pesawat seolah-olah muncul dari mimpi
membawa segudang dana bahagia sampai mati
untuk bandara, hotel, discotik, lipstick, cocacola, narkoba dan Jelli 
di tepian jalan raya dan para pendatang berganti
oh,,,di mana Blater, di mana Pesantren, di mana celurit emas, dan permaisuri
aku tak melihat orang-orang Madura takut mati
kehilangan ikan, kehilangan pohon, kehilangan tanah asri
luar biasa, tentu aku harus memotretnya dari sisi

oh, Tuhan, lagi-lagi aku bermimpi
melihat pohon-pohon ditebangi
minyak dihisap dihabisi
hotel-hotel berbintang dibangun indah sekali
orang sarungan pun tak ada lagi
mereka bebas keluar masuk kali
Madura, aku tahu kau melarangku tanpa sarung dan kerudung
jangan marah, ke sinilah, berdirilah bersamaku
aku hanya bermimpi memotret
penguasa tergiur dengan keindahan alami
untuk membuat proyek subsidi
Madura terus dihisapi
menciptakan orang-orang pengemis
atau kemajuan mafia-mafia
maka di Madura
toko-toko dan tanah Madura hangus terbakar api

kebudayaan dan kesenian ternoda
diiming-imingi kebudayaan internasional yang wah
tari bukan lagi satu bahasa
macopat bukan lagi bahasa rakyat
tetapi hanya hiburan sesaat
ia bukan lagi ukuran jiwa
tapi hanya sekadar ukuran tawa
hidup dikuasai kehendak gaya
tanpa membaca pelajaran alam raya
kekuasaan dikuasai manusia
tidak memerhatikan jalan otak
hati, sungai, bukit, dan hutan
di Madura
pantai, kasur pasir, masjid dan surau
telah disepikan dari suara-suara hati  
b/
Songsongan, ke Batuputih
Batang-Batang, ke Lombang
nyon-sonan ampon letih
batang pohon sudah tumbang

taman sare, lapa taman, grujugan ke andulang
harus mengembara di tepian laut gelombang
agar engkau tahu bibir potre koneng mulai letih berdendang
memamerkan kekuatan sejarah Sumenep yang dalam
dari songsongan di tepian utara ke batuputih
aku mencium terasi udang dengan kuah kelor dan ikan kering
batu-batu putih berjajar menghias mataku memajang
lantaran kehijaun masih memoles wajar batu-batuan
di Legung aku mencium bakso ikan yang super mantap
ikan-ikan tongkol yang dibawa ke tepian oleh nelayan
kita merebut membeli dari pedagang lokal

bumi Sumenep adalah bumi gas dan ikan-ikan 
bumi yang dilirik negara-negara jajahan

pintu keraton Parsanga membuka masa lalu
memulai tenonan manding bukit gadding
dan kita tak selesai membaca
kerajaan batuputih

karena aku harus menyelesaikan tanah milikku
menyelesaikan menanam kacang dan padi juga hati

Madura, 2016-2017

*Penyair kelahiran Sumenep, aktif mendampingi sanggar di MA Nasy’atul Muta’allimin Gapura dan dosen STKIP PGRI Sumenep.

Share :

Baca Juga

Puisi

Rato

Puisi

Laut Membawamu Pergi

Puisi

Tentang Senja dan Sehabis Itu
Kangen

Puisi

Ngangen, Saat Dunia Transparan

Puisi

Air Jatuh
Rindu

Cerpen

Perihal Rindu
Sengketa

Puisi

Counter Attack

Puisi

Sajak Kerinduan