PROBOLINGGO (Surau.ID) – Suasana sejuk di Desa Bucor Kulon, Kecamatan Pakuniran, tampak berbeda dari biasanya pada Ahad (7/6/2026). Sejak fajar menyingsing, Masjid Ar Razaq telah dipenuhi jamaah yang melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur’an dengan khusyuk. Kegiatan Khotmil Al-Qur’an dan pembacaan shalawat Nabi yang rutin digelar dua minggu sekali ini telah menjadi denyut nadi spiritual yang melekat kuat di tengah masyarakat setempat.
Membumikan Al-Qur’an dalam Rutinitas
Kegiatan ibadah ini dimulai tepat selepas shalat subuh berjamaah. Tanpa perlu dikomando, para jamaah secara bergantian melantunkan ayat demi ayat hingga khatam. Bagi warga Desa Bucor Kulon, tradisi ini bukan sekadar rutinitas mingguan, melainkan sarana spiritual untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT sekaligus menata kembali niat sebelum memulai aktivitas sepekan ke depan.
Lebih dari sekadar pengharapan hajat duniawi, kegiatan ini juga menjadi ajang pengabdian untuk kebutuhan ukhrowi. Puncak dari setiap pertemuan adalah doa bersama, di mana pahala dari bacaan Al-Qur’an dihadiahkan kepada para ahli kubur, baik keluarga maupun leluhur warga desa. Ritual ini mencerminkan kuatnya tradisi bakti masyarakat Desa Bucor Kulon kepada mereka yang telah mendahului ke alam barzah.
Suasana semakin syahdu saat lantunan shalawat Nabi menggema sesaat setelah khatam Al-Qur’an. Pujian kepada Rasulullah SAW mengalir dengan ritme yang menenangkan, menciptakan energi positif dan keteduhan bagi setiap orang yang hadir di masjid.
Ruang Kerukunan dan Gravitasi Sosial
Antusiasme warga di lingkungan Masjid Ar Razaq menunjukkan bahwa kegiatan ini telah menjadi bagian integral dari identitas sosial mereka. Bapak Senol, salah satu warga setempat yang aktif mengikuti kegiatan ini, mengungkapkan bahwa majelis ini menjadi ruang vital untuk merawat tali persaudaraan.
“Khotmil Qur’an dan shalawat di sini bukan hanya tentang hajat dunia, tapi juga cara kami mendoakan saudara yang telah mendahului. Ini wadah yang sangat penting untuk mempertebal iman sekaligus merawat kerukunan antarwarga tanpa sekat,” ujar Bapak Senol saat ditemui usai kegiatan.
Ketua majelis menuturkan bahwa pemilihan waktu di hari Ahad sengaja dipilih agar warga memiliki bekal ruhani yang cukup sebelum kembali ke rutinitas keseharian, baik sebagai petani maupun pekerja.
Melalui kegiatan ini, Masjid Ar Razaq tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah formal, tetapi juga telah menjadi pusat gravitasi sosial yang menjaga spirit religiusitas masyarakat Kecamatan Pakuniran. Konsistensi warga dalam menjaga tradisi ini menjadi bukti nyata bahwa nilai-nilai keagamaan tetap menjadi napas utama dalam kehidupan masyarakat desa, meski zaman terus berganti.