JAKARTA (Surau.ID) – Tiga warisan dokumenter Indonesia resmi meraih pengakuan UNESCO Memory of the World Regional Asia-Pasifik dalam sidang umum ke-11 MoWCAP di Jakarta, 3–5 November 2026.
Ketiga warisan bersejarah tersebut adalah naskah Bo’ Sangaji Kai Kesultanan Bima, Kidung Bhuwana Wināśa dari Bali, serta koleksi arsip sastra modern Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin.
Pengakuan internasional ini mempertegas kaya dan pentingnya dokumentasi Nusantara dalam merekam jejak politik, peristiwa alam, perlawanan kolonialism, hingga jaringan sastra kawasan Asia Tenggara.
Naskah Bersejarah Bima, Kidung Bali, dan Arsip Sastra
Naskah Bo’ Sangaji Kai merekam sejarah Kesultanan Bima abad 17–19, letusan dahsyat Gunung Tambora 1815, serta tradisi kepemimpinan perempuan dan perlindungan hukum gender masa lalu.
Kidung Bhuwana Wināśa merefleksikan perlawanan masyarakat Bali terhadap kolonialisme Belanda, sementara koleksi PDS H.B. Jassin mendokumentasikan korespondensi dan jejaring sastra modern Asia Tenggara sejak 1930-an.
Komitmen Pelestarian Dokumenter dan Peradaban Bangsa
Capaian ini menjadi bukti nyata komitmen Indonesia dalam menjaga serta melestarikan arsip dan memori kolektif bangsa agar tetap relevan bagi generasi mendatang.
“Pengakuan UNESCO ini bentuk apresiasi dunia atas upaya pelestarian dokumen bersejarah di Tanah Air,” ujar Mego Pinandito, Kepala ANRI sekaligus Ketua MoW Indonesia.
Pelestarian warisan dokumenter ini diharapkan terus menginspirasi generasi muda untuk merawat identitas sejarah, budaya, dan intelektual bangsa di kancah global.