PROBOLINGGO (Surau.ID) – Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) Universitas Nurul Jadid resmi menutup rangkaian Communiverse Renaissance 2026 melalui Diklat Konten Kreator yang menghadirkan kreator digital asal Situbondo, Muhsin Basri, yang akrab disapa Muhsin Malolo, di Aula I Pondok Pesantren Nurul Jadid, Jumat (31/07/2026). Sebanyak 125 pelajar SMA, SMK, dan MA sederajat se-Kabupaten Probolinggo mengikuti pelatihan yang membekali mereka dengan kemampuan membangun personal branding dan menciptakan konten digital yang edukatif.
Sejak pagi, peserta tampak antusias mengikuti setiap sesi pelatihan. Mereka aktif berdiskusi, mengajukan pertanyaan, hingga berbagi pengalaman seputar dunia kreator digital. Kehadiran Muhsin Malolo membuat suasana diklat berlangsung interaktif dan mendorong peserta memahami peluang industri kreatif di era digital.
Muhsin membuka materinya dengan pembahasan mengenai personal branding. Menurutnya, setiap orang perlu membangun identitas digital yang positif agar mampu dikenal melalui karakter, kompetensi, dan karya yang bermanfaat, bukan sekadar mengejar popularitas di media sosial.
“Personal branding bukan sekadar ingin dikenal banyak orang, tetapi bagaimana orang mengenal nilai baik yang kita miliki,” terangnya.
Ia menjelaskan bahwa jejak digital akan menjadi cerminan diri seseorang. Karena itu, pelajar perlu mulai membangun citra yang baik sejak dini melalui konten yang memberi manfaat bagi masyarakat.
“Apa yang kita unggah hari ini bisa menjadi identitas kita di masa depan,” katanya.
Pada sesi berikutnya, Muhsin mengupas strategi menjadi content creator yang mampu bersaing di berbagai platform digital. Ia membimbing peserta mulai dari menemukan ide konten, mengenali target audiens, menentukan teknik pengambilan gambar, hingga mengemas video agar menarik sekaligus memiliki nilai edukasi.
“Konten yang baik bukan hanya viral, tetapi juga mampu memberikan manfaat bagi orang lain,” ujar Muhsin.

Muhsin juga mengingatkan peserta agar tidak mudah mengikuti tren tanpa mempertimbangkan dampaknya. Menurutnya, seorang kreator harus bertanggung jawab terhadap setiap konten yang dipublikasikan.
Ketua Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam Universitas Nurul Jadid, Zakiyah Ramadhani, menyampaikan bahwa Diklat Konten Kreator menjadi bagian dari komitmen kampus dalam meningkatkan kompetensi generasi muda di bidang komunikasi dan media digital. Ia berharap pelatihan tersebut mampu melahirkan pelajar yang kreatif, adaptif, dan mampu memanfaatkan media digital secara bijak.
“Kami berharap kegiatan ini menjadi awal lahirnya kreator-kreator muda yang mampu berdakwah, berkarya, dan menginspirasi melalui media digital,” harapnya.
Sebagai bentuk implementasi materi, panitia menantang setiap delegasi sekolah untuk menyusun konsep konten kreatif berdasarkan ilmu yang telah diperoleh selama pelatihan. Selanjutnya, peserta merealisasikan konsep tersebut dalam bentuk video kreatif yang dipresentasikan sebagai hasil pembelajaran.
Diklat Konten Kreator sekaligus menandai berakhirnya seluruh rangkaian Communiverse Renaissance 2026. Sebelumnya, Program Studi KPI Universitas Nurul Jadid telah menggelar sejumlah kegiatan, mulai dari screening film, sharing session Ketua HMPS KPI se-Jawa Timur, hingga pelatihan kreator digital.
Melalui rangkaian kegiatan tersebut, Prodi KPI Universitas Nurul Jadid terus memperkuat ekosistem komunikasi kreatif sekaligus menyiapkan generasi muda yang inovatif dan siap memanfaatkan media digital sebagai ruang berkarya dan berdakwah.
“Communiverse Renaissance kami hadirkan bukan sekadar sebagai agenda tahunan, tetapi sebagai ruang belajar, berkarya, dan bertumbuh bagi generasi muda di era digital,” pungkasnya.