Bogor (Surau.ID) – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengajak para pemangku kepentingan sektor antariksa memperkuat kesiapan menghadapi semakin padatnya orbit rendah Bumi atau Low Earth Orbit (LEO). Melalui Pusat Riset Teknologi Satelit, BRIN akan menggelar Kolokium Series #7 bertajuk Surviving a Congested LEO Future: A Paradigm Shift for Sustainable Space Operations pada Selasa (28/7).
Forum ilmiah yang berlangsung secara hybrid di Ruang Rapat Galaxy, Kawasan Sains Ibnoe Soebroto, Bogor, ini akan mempertemukan peneliti, operator satelit, akademisi, pelaku industri, hingga pemangku kebijakan. BRIN menilai diskusi tersebut penting untuk memperkuat kesiapan Indonesia, terutama di tengah rencana pembangunan Bandar Antariksa (Spaceport) nasional dan meningkatnya aktivitas satelit di orbit LEO.
Peneliti Pusat Riset Teknologi Satelit BRIN, Ery Fitrianingsih, mengatakan kepadatan orbit LEO telah menjadi tantangan nyata yang membutuhkan respons bersama, bukan lagi sekadar isu akademik.
“Tujuan utama dari kolokium ini adalah membangun kesadaran bersama mengenai tantangan orbit LEO di masa depan. Kita sebagai pelaku sektor keantariksaan perlu mengubah paradigma secara mendasar di seluruh aspek yang saling berkaitan, mulai dari teknis perancangan, kebijakan, hingga operasional harian,” tegas Ery.
Perkuat Kapasitas Riset Keantariksaan
Ery menjelaskan kolokium tersebut akan menjadi wadah untuk memperkuat kapasitas riset nasional di bidang keantariksaan. Menurutnya, para peneliti dapat memperluas kajian mengenai Space Situational Awareness (SSA), pemantauan objek antariksa, pengembangan satelit ramah lingkungan (eco-design), hingga teknologi mitigasi sampah antariksa dan deorbit satelit.
Di sisi lain, BRIN juga mendorong operator satelit untuk meningkatkan standar keselamatan operasi.
“Bagi operator satelit, kolokium ini menyoroti pentingnya kepatuhan terhadap standar keselamatan antariksa yang tinggi, penyediaan data lintasan satelit secara transparan dan real-time, penerapan manuver penghindaran tabrakan, serta perencanaan deorbit yang matang,” ujar Ery.
Ia menambahkan, kalangan akademisi juga dapat memanfaatkan forum tersebut untuk mengembangkan kurikulum serta riset terapan di bidang sains maupun hukum keantariksaan. Hasil kajian itu diharapkan mampu memperkuat penyusunan regulasi nasional yang sejalan dengan prinsip tata kelola ruang angkasa global.
“Bagi industri, kolokium ini diharapkan dapat mendorong penerapan standar keamanan operasi satelit komersial yang sejalan dengan prinsip keberlanjutan ruang angkasa, sehingga pemanfaatan orbit Bumi dapat terus berlangsung secara aman, bertanggung jawab, dan berkelanjutan,” paparnya.
Kepala Pusat Riset Teknologi Satelit BRIN, Wahyudi Hasbi, menegaskan pembangunan bandar antariksa nasional harus berjalan seiring dengan komitmen menjaga keberlanjutan ruang angkasa. Menurutnya, Indonesia tidak cukup hanya memiliki infrastruktur dan teknologi satelit, tetapi juga harus berperan aktif menjaga agar orbit Bumi tetap aman bagi seluruh pengguna.
“Orbit LEO adalah sumber daya bersama yang terbatas. Jika Indonesia ingin menjadi pemain kunci dalam industri antariksa global melalui pembangunan spaceport, kita juga harus siap menjadi bagian dari solusi menjaga keberlanjutan ruang angkasa,” tegas Wahyudi.
Perkuat Kolaborasi Menuju Antariksa Aman
Kepala Organisasi Riset Penerbangan dan Antariksa BRIN, Robertus Heru Triharjanto, menilai kolokium ini dapat memperkuat kolaborasi lintas lembaga dalam menghadapi tantangan sektor antariksa. Menurutnya, Indonesia perlu membangun kesamaan visi sebelum mengembangkan pemanfaatan ruang angkasa secara lebih luas.
“Selain mengembangkan kapasitas pemantauan objek antariksa dan satelit yang andal, BRIN berkomitmen aktif dalam forum-forum internasional yang membahas tata kelola ruang angkasa yang berkelanjutan. Kolokium ini menjadi langkah penting untuk menyatukan visi nasional sebelum kita melangkah lebih jauh dalam pemanfaatan antariksa dan pengoperasian spaceport di tanah air,” ujar Robertus.
Melalui kolokium tersebut, BRIN berharap seluruh pemangku kepentingan dapat memperkuat sinergi dalam membangun ekosistem antariksa nasional yang aman, bertanggung jawab, dan berkelanjutan, sekaligus meningkatkan daya saing Indonesia di industri antariksa global.