Cropped Red S Simbol.webp
Surau.ID •
27 Desember 2025 | 20:12 WIB
Daerah, Nasional

Banjir dan Longsor Sumatera Jadi Alarm Mitigasi Bencana, Ini Penjelasan Pakar IPB

Sampah kayu gelondongan
Kayu-kayu yang terbawa banjir bandang di Tapanuli Selatan. Foto: ANTARA FOTO/Yudi Manar.

 

Jakarta (Surau.ID) – Rentetan banjir dan tanah longsor yang melanda sejumlah wilayah di Sumatera pada November 2025 menjadi peringatan serius bagi sistem mitigasi bencana di Indonesia. Peristiwa tersebut menegaskan pentingnya pemanfaatan sains iklim sebagai fondasi utama dalam penanganan bencana hidrometeorologi.

Pakar Agrometeorologi dari Departemen Geofisika dan Meteorologi IPB University, Dr. I Putu Santikayasa, menilai analisis iklim memiliki peran strategis dalam mengurangi risiko bencana dan melindungi masyarakat.

“Kejadian ini menunjukkan bahwa informasi dan analisis iklim memiliki peran strategis dalam mengurangi risiko, meningkatkan kesiapsiagaan, serta memperkuat ketahanan masyarakat menghadapi bencana,” ujar Dr. Putu dalam kegiatan LRI TALK #3 bertajuk “Bersama Menjaga Sumatera”, Selasa (24/12/2025), seperti dikutip dari laman resmi IPB University.

Dr. Putu menjelaskan, kondisi atmosfer saat bencana terjadi berada dalam situasi tidak normal. Meski fenomena global seperti Indian Ocean Dipole (IOD) berada pada fase negatif lemah dan La Niña juga terpantau lemah, faktor lokal justru berperan dominan. Ia mengungkapkan, kemunculan bibit siklon tropis di Selat Malaka menjadi pemicu utama hujan ekstrem di wilayah Sumatera bagian utara.

“BMKG mencatat curah hujan di Sumatera bagian utara mencapai lebih dari 300 milimeter. Bahkan, pada 26 November terjadi hujan harian hingga sekitar 438 milimeter, yang setara dengan curah hujan satu bulan dalam satu hari,” jelasnya.

Anomali curah hujan tersebut, lanjut Dr. Putu, menjelaskan tingginya intensitas banjir bandang dan tanah longsor yang terjadi secara masif. Dampak bencana itu bahkan menyebabkan lebih dari 50 orang terjebak di kawasan hutan selama dua hari dua malam pada 25 November 2025.

Selain faktor atmosfer, Dr. Putu juga menekankan pentingnya merespons informasi dari masyarakat di wilayah hulu. Ia mencontohkan kesaksian warga yang melihat longsoran sempat tertahan material kayu di lereng bukit sebelum bencana besar terjadi. Menurutnya, sains iklim harus mampu menerjemahkan tanda-tanda tersebut menjadi langkah mitigasi yang konkret.

Ia memaparkan peran sains iklim dalam tiga fase penanganan bencana. Pada fase prabencana, data historis perlu dimanfaatkan untuk memetakan zona rawan dan indeks ekstrem. Saat bencana berlangsung, pemerintah dan pemangku kepentingan harus mengembangkan impact-based forecasting agar respons darurat lebih tepat sasaran. Sementara pada fase pascabencana, proyeksi iklim jangka panjang diperlukan untuk membangun infrastruktur yang adaptif terhadap perubahan iklim.

Di akhir paparannya, Dr. Putu menegaskan bahwa integrasi antara teknologi peringatan dini dan kesiapan infrastruktur menjadi kunci utama agar masyarakat Sumatera tidak terus terjebak dalam siklus bencana cuaca ekstrem.

“Sistem peringatan memberi kita waktu untuk bersiap, dan infrastruktur adaptif memberi kita kapasitas untuk bertahan,” pungkas Dr. Putu.

Ia berharap pemerintah daerah dapat memasukkan sains iklim ke dalam perencanaan pembangunan, sehingga proses rekonstruksi pascabencana di Sumatera tidak hanya memulihkan kerusakan, tetapi juga memperkuat ketahanan ekosistem di masa depan.

Penulis: Adi Purnomo Suharno
Editor: Redaksi Surau.ID
TAGS
White Surau
PT. SURAU NUSANTARA GROUP
Perum D’Tanjung Raya, Gang Alamanda, Blok S5, Karanganyar, Paiton, Probolinggo, Jawa Timur 67291

Langganan

Dapatkan artikel atau tulisan terbaru dari Surau.id
Copyright © 2026 Surau.id