JAKARTA (Surau.ID) – Menteri Agama Nasaruddin Umar menyampaikan tiga usulan strategis untuk memperluas jangkauan program Makan Bergizi Gratis bagi kalangan santri dalam rapat koordinasi pada Rabu, 29 Juli 2026.
Usulan tersebut mencakup perluasan jangkauan penerima manfaat, pelibatan ekosistem pesantren dalam rantai pasok makanan, serta penyesuaian jadwal distribusi logistik yang selaras dengan kebiasaan santri.
Langkah sinkronisasi data lintas sektoral ini ditargetkan rampung paling lambat tanggal 5 Agustus mendatang agar penyaluran bantuan tepat sasaran.
Tantangan Jangkauan Dan Validitas Data
Berdasarkan data Badan Gizi Nasional per 28 Juli 2026, dari total 4.268.848 santri di Indonesia, baru sekitar 61.195 santri atau 1,43 persen yang terlayani program MBG.
Validitas data menjadi syarat utama agar persoalan di lapangan dapat diurai dengan mudah, sementara Kemenag memastikan strukturnya siap bersinergi penuh.
Penguatan Ekonomi Pesantren Dan Distribusi
Badan Gizi Nasional diusulkan untuk memanfaatkan bahan baku yang dikelola mandiri oleh pesantren guna menekan biaya logistik sekaligus menghidupkan kemandirian ekonomi umat.
“Di pondok pesantren itu ada kebiasaan puasa Senin dan Kamis. Hal ini tentu kurang sinkron dengan jadwal distribusi makanan dari Satuan Pelayanan Program Gizi yang umumnya diantar pada siang hari,” ujar Nasaruddin Umar, Menteri Agama.
Dengan adanya penyesuaian jadwal distribusi serta pemenuhan sertifikasi higienitas, program prioritas ini diharapkan mampu meningkatkan standar gizi santri secara optimal.