PALU (Surau.ID) – Puteri Batik Sulawesi Tengah Zulfaida Syarif Botutihe memfokuskan advokasinya untuk mengenalkan batik khas daerah kepada generasi muda melalui pemanfaatan ruang digital dan jejaring kepemudaan, Jumat (18/9/2026).
Langkah proaktif ini diambil untuk mengikis anggapan bahwa batik sekadar pakaian formal. Melalui kemasan yang modern, warisan budaya lokal ini diharapkan hadir lebih relevan dalam kehidupan sehari-hari anak muda.
Dara berusia 25 tahun asal Palu tersebut memanfaatkan media sosial guna mempromosikan ragam motif batik daerah. Ia meyakini partisipasi aktif pemuda menjadi kunci utama menjaga keberlanjutan warisan leluhur.
Inovasi dan Tantangan Pelestarian
Penggunaan media sosial memberikan peluang besar untuk membawa motif batik Sulawesi Tengah ke tingkat global. Kreativitas anak muda dianggap sebagai modal penting untuk mengolah budaya menjadi konten yang menarik.
Meski demikian, gempuran tren budaya luar negeri menjadi tantangan nyata. Langkah pelestarian membutuhkan konsistensi agar identitas budaya lokal tetap melekat kuat di tengah dinamika perkembangan zaman.
Ajakan Bangga Budaya Sendiri
Zulfaida berharap langkah kecil seperti mengenali sejarah motif dan mengunggah produk lokal di media sosial mampu memupuk rasa bangga generasi muda terhadap warisan budaya daerahnya masing-masing.
“Kalau bukan generasi muda yang melanjutkan dan memperkenalkan budaya daerah, lalu siapa lagi,” ujar Zulfaida Syarif Botutihe, Puteri Batik Sulawesi Tengah.
Advokasi ini menegaskan bahwa pelestarian warisan budaya memerlukan kepedulian serta aksi nyata generasi muda sebagai penerus bangsa.