BOGOR (Surau.ID) – Lubna Puteri Azzahra membagikan kisah perjuangan menjadi mualaf hingga meraih gelar S2 tanpa dukungan keluarga saat mengikuti Bootcamp Muharrik Mualaf di Bogor, Sabtu (19/9/2026).
Keputusan memeluk Islam pada usia 19 tahun membuat dukungan finansial serta mental dari keluarganya terhenti total. Kondisi tersebut memaksa Lubna berjuang sendirian bertahan hidup sebagai mahasiswa perantau di Jakarta.
Guna menyambung hidup dan membiayai kuliah, ia sempat bekerja sebagai penggoreng pisang selama dua tahun dengan penghasilan Rp1,8 juta per bulan.
Awal Petunjuk Memeluk Islam
Kisah berawal dari pengalaman spiritual Lubna yang terus mendengar suara azan di telinganya setiap pukul 02.00 dini hari selama sepekan. Hal itu menggerakkan hatinya mantap bersyahadat di Masjid Agung Sunda Kelapa.
Meski harus menunda kuliah demi membayar kosan, Lubna terus merawat mimpinya. Lewat perkuliahan daring dan sistem cicilan saat pandemi Covid-19, ia berhasil menyelesaikan pendidikan S1.
Dampak dan Tekad Melangkah Ke Depan
Keberhasilan tersebut berlanjut hingga jenjang S2 yang diselesaikannya dalam waktu 12 bulan. Pencapaian ini membuktikan keterbatasan keadaan tak mampu memadamkan semangat belajar serta cita-citanya menjadi pengacara.
“Setiap pilihan itu punya konsekuensi masing-masing. Yang perlu kita tekankan itu tetap merawat harapan, tetap semangat,” ujar Lubna Puteri Azzahra, peserta Bootcamp Muharrik Mualaf 2026.
Perjalanan panjang dari seorang penggoreng pisang hingga menjadi magister mengajarkan bahwa selama harapan terus dirawat, jalan menuju kemanfaatan bagi sesama akan selalu terbuka lebar.