MALANG (Surau.ID) – Pengasuh Ponpes Darun Nun Malang, Halimi Zuhdy, mengulas keindahan balagah Al-Qur’an terkait dinamika tata urutan kata indra dalam kajian keislaman terbaru.
Kajian ini mengurai fenomena taqdīm wa ta’khīr yakni perubahan susunan kata penglihatan dan pendengaran, sebagai pesan reflektif agar manusia tidak menunda keimanan hingga segalanya tampak kasatmata.
Struktur kalimat dalam wahyu Al-Qur’an terbukti sangat presisi serta selalu menyesuaikan dengan tuntutan konteks situasi (mura’atu muqtadhal hal) yang ingin disampaikan kepada para pembacanya. Keindahan susunan redaksi ini sekaligus menegaskan keagungan bahasa Al-Qur’an sebagai mukjizat ilmiah yang tidak tertandingi.
Perpindahan Berita Menjadi Penyaksian
Pada umumnya, ayat Al-Qur’an mendahulukan kata pendengaran dibanding penglihatan karena di dunia manusia menerima informasi wahyu terlebih dahulu sebelum menyaksikan pembuktiannya secara langsung.
Namun, susunan ini sengaja dibalik dalam Surah as-Sajdah ayat 12, di mana kata melihat ditempatkan lebih awal sebab manusia kala itu telah menyaksikan langsung realitas akhirat secara nyata. Perubahan ini menandai pergeseran substansial dari penyampaian kabar berita menuju pembuktian empiris yang kasatmata di hadapan Sang Pencipta.
Momentum Penyesalan yang Terlambat
Perubahan struktur tersebut menggambarkan penyesalan mendalam manusia yang baru meyakini kebenaran setelah melihatnya secara empiris, padahal kesempatan beramal saleh telah ditutup rapat.
“Pendahuluan dan pengakhiran dalam Al-Qur’an bukan susunan mekanis, melainkan susunan yang melayani makna dan konteks,” ujar Pengasuh Ponpes Darun Nun Malang, Halimi Zuhdy.
Ulasan ini mengingatkan seluruh umat agar menjadikan setiap pengetahuan sebagai pendorong amal nyata sebelum kesempatan hidup yang berharga di dunia ini berakhir. Pengetahuan agama tidak boleh berhenti pada batas wacana pemikiran belaka, melainkan harus segera ditransformasikan menjadi pendorong tindakan konkret serta perbaikan kualitas ibadah.