Cropped Red S Simbol.webp
Surau.ID •
15 Februari 2026 | 16:34 WIB
Nasional

Bedah Buku KH Wahab Chasbullah, KH Ma’ruf Amin: Ini Pemikiran yang Luar Biasa

Kiai Makruf Amin
Musytasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Ma'ruf Amin menghadiri bedah buku Ulama Besar sekaligus Pahlawan Nasional KH Abdul Wahab Hasbullah. (Liputan6.com/Winda Nelfira)

 

Jakarta (Surau.ID) — Musytasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Ma’ruf Amin mengajak warga Nahdlatul Ulama (NU) menghidupkan kembali pola pikir KH Wahab Chasbullah untuk menjawab tantangan abad kedua NU.

Ia menegaskan bahwa pemikiran KH Wahab Chasbullah, yang akrab disapa Mbah Wahab, tetap relevan sebagai rujukan strategis bagi NU dalam menghadapi dinamika kebangsaan dan keislaman ke depan.

“Bagaimana mengaktualkan kembali cara berpikir ini untuk kebangkitan Tanah Air, hifdzul wathan, kifayatul wathan, agar mampu meredam propaganda yang dapat merusak bangsa ini, baik dari dalam maupun luar. Itulah semangat imaratul wathan atau memakmurkan negeri,” kata Kiai Ma’ruf, saat membuka Bedah Buku KH Wahab Chasbullah berjudul Pendiri NU dan Penggerak NKRI karya KH Abdul Mun’im DZ, di Gedung Kementerian Haji dan Umrah RI, Jakarta Pusat, Sabtu (14/02/2026).

Menurutnya, NU perlu merumuskan ulang semangat dan metode berpikir yang telah dirintis Mbah Wahab agar sesuai dengan konteks zaman. Ia menilai tantangan yang dihadapi NU saat ini tidak hanya datang dari tekstualisme, tetapi juga liberalisme, rasionalisme, hingga radikalisme.

“Oleh karena itu, semangat yang dirintis Mbah Wahab harus kita rumuskan kembali sesuai tantangan yang kita hadapi di abad kedua NU,” ujarnya.

Dalam kesempatan itu, Kiai Ma’ruf juga mengapresiasi buku karya Kiai Mun’im DZ tentang KH Wahab Chasbullah. Ia menyebut buku tersebut mampu menginspirasi lahirnya kembali sosok-sosok dengan visi besar seperti Mbah Wahab di era baru NU.

“Ini buku yang luar biasa dan sangat menginspirasi kita semua untuk melahirkan kembali Wahab Chasbullah abad kedua NU,” katanya.

Lebih lanjut, Kiai Ma’ruf menilai Mbah Wahab sebagai tokoh visioner yang responsif terhadap persoalan umat dan bangsa. Ia mencontohkan gagasan Taswirul Afkar sebagai forum ulama untuk berdiskusi dan memperluas wawasan keislaman serta kebangsaan.

“Itu sesuatu yang luar biasa, membuat forum ulama untuk berdiskusi tentang keadaan, memperluas cakrawala pandangan terhadap berbagai pemikiran, untuk kemudian direspons. Dari diskusi itulah lahir Nahdlatul Wathan,” jelasnya.

Selain itu, Mbah Wahab juga mendorong kemandirian ekonomi melalui pendirian Nahdlatut Tujjar sebagai wadah usaha warga Nahdliyin. Bagi Kiai Ma’ruf, langkah tersebut menunjukkan bahwa perjuangan organisasi membutuhkan fondasi ekonomi yang kuat.

“Ini pemikiran yang luar biasa menurut saya,” tegas Kiai Ma’ruf.

Sementara itu, putri KH Wahab, Nyai Hj Hizbiyah Rochim, menilai buku tersebut bukan sekadar biografi, melainkan upaya menghadirkan kembali gagasan Mbah Wahab dalam konteks kekinian.

Ia menegaskan bahwa buku tersebut menjadi pengingat penting bahwa praktik beragama harus berjalan seiring dengan kecintaan kepada Tanah Air, sebagaimana nilai hubbul wathan minal iman. Melalui karya itu pula, lanjutnya, generasi muda dapat meneladani cara Mbah Wahab mengelola perbedaan lewat dialog terbuka tanpa meninggalkan prinsip Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja).

“Beliau (Mbah Wahab) membuktikan bahwa menjadi Muslim yang taat dan menjadi warga negara yang nasionalis bukanlah dua hal yang bertentangan,” tandasnya.

Penulis: Adi Purnomo Suharno
Editor: Redaksi Surau.ID
TAGS
White Surau
PT. SURAU NUSANTARA GROUP
Perum D’Tanjung Raya, Gang Alamanda, Blok S5, Karanganyar, Paiton, Probolinggo, Jawa Timur 67291

Langganan

Dapatkan artikel atau tulisan terbaru dari Surau.id
Copyright © 2026 Surau.id