JOMBANG (Surau.ID) – Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng, KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin, menegaskan pelaksanaan Muktamar Ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) pada awal Agustus 2026 diarahkan untuk mengembalikan organisasi ke Qonun Asasi atau aturan dasar sejak berdiri. Hal itu disampaikan di Jombang, Jawa Timur, Minggu (20/04/2026).
Menurut Gus Kikin, NU merupakan organisasi yang menjunjung tinggi ukhuwah, persatuan, dan keteladanan, sebagaimana diajarkan para muassis.
“NU itu dikembalikan ke Qonun Asasi, ikuti aturan yang ada (AD/ART). NU itu harokah, NU itu gerakan, para muassis mengajarkan ukhuwah, persatuan, solid, dan memberi contoh yang baik,” kata dia.
Ia menilai penguatan nilai ukhuwah dan soliditas menjadi kunci agar NU kembali memiliki daya gerak besar di tengah masyarakat.
Gus Kikin menambahkan, NU sejak awal berdiri tidak lepas dari kepentingan umat dan bangsa, bukan kepentingan pribadi. Dengan fondasi tersebut, NU dinilai mampu menjadi kekuatan sosial yang berpengaruh.
Ia juga menjelaskan latar belakang historis berdirinya NU, yang salah satunya dipicu kondisi global saat Raja Arab Saudi mendorong mazhab Wahabi kepada jamaah haji dan rencana perubahan situs bersejarah.
Dari situ, kata dia, dibentuk Komite Hijaz untuk mengirim delegasi, yang kemudian melahirkan Jamiyah Nahdlatul Ulama sebagai organisasi resmi.
“Anggota jamiyah itu juga ada dari Mesir dan India yang bermukim di Surabaya. Jadi, NU itu sudah lama bersifat global dari sikap/tujuan dan anggota,” ujarnya.
Terkait Muktamar NU 2026, Gus Kikin menyatakan siap menjalankan amanat jika didorong oleh para pihak, namun menegaskan tidak meminta jabatan.
“Kalau saya didorong ya jalan, kan saya maju itu sebagai kewajiban ya sudah. Kalau tidak ada yang dorong ya nggak apa-apa,” kata dia.
Ia juga menolak upaya meraih dukungan dengan cara yang tidak sesuai prinsip.
“Yang penting juga, jangan mendorong dengan menghalalkan segala cara, itu nggak mau saya,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua Umum Ikatan Keluarga Alumni Pesantren Tebuireng (IKAPETE) KH Masykuri Bakri berharap Muktamar NU 2026 mampu menguatkan persatuan internal organisasi.
“NU harus didudukkan kembali sebagaimana yang dirintis oleh KH Hasyim Asy’ari yakni bisa membawa nuansa persatuan,” kata dia.
Ia menekankan pentingnya mengembalikan NU pada khittah sebagai pedoman utama, termasuk bagi kalangan alumni.