JAKARTA (Surau.ID) – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa optimistis Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Indeks Harga Saham Gabungan Bursa Efek Indonesia tetap berpeluang menembus level 10.000 pada 2026, meski saat ini tengah melemah akibat tekanan global. Pernyataan itu disampaikan di Jakarta, Jumat (25/04/2026).
Purbaya menjelaskan volatilitas IHSG saat ini dipicu sentimen negatif perekonomian global, termasuk kekhawatiran pasokan energi dan dinamika kebijakan moneter internasional.
Ia menegaskan, penguatan IHSG sangat bergantung pada fundamental ekonomi nasional. Pemerintah, kata dia, lebih memprioritaskan stabilitas ekonomi dibanding menjaga pergerakan indeks saham.
“Kalau ekonominya bagus, nanti (IHSG) naik cepat. Makanya fokus saya adalah jaga itu (ekonomi), bukan jaga IHSG,” kata Purbaya.
Menurut dia, IHSG akan menyesuaikan secara otomatis terhadap kondisi fundamental ekonomi yang membaik.
Pada perdagangan Jumat (25/04/2026), IHSG ditutup melemah 249,12 poin atau 3,38 persen ke level 7.129,49. Indeks LQ45 juga turun 25,12 poin atau 3,51 persen menjadi 690,76.
Sepanjang perdagangan, IHSG bergerak di zona merah sejak sesi pembukaan hingga penutupan. Seluruh sektor tercatat melemah, dengan penurunan terdalam pada sektor barang konsumen non primer sebesar 4,14 persen.
Associate Director Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus, menyebut pelemahan dipicu kekhawatiran global terhadap pasokan energi serta sikap pelaku pasar menjelang pertemuan FOMC Meeting oleh The Federal Reserve.
Ia menilai pasar juga menunggu rilis sejumlah data ekonomi Amerika Serikat, seperti Produk Domestik Bruto kuartal I-2026, inflasi PCE, hingga indeks manufaktur.
Dari dalam negeri, tekanan turut datang setelah Fitch Ratings menurunkan outlook kredit empat bank besar, yakni Bank Mandiri, Bank Rakyat Indonesia, Bank Central Asia, dan Bank Negara Indonesia, dari stabil menjadi negatif.
Di sisi lain, pemerintah mengambil langkah pengamanan energi dengan mengamankan 150 juta barel minyak Rusia sebagai bagian dari strategi menjaga pasokan di tengah konflik kawasan Timur Tengah.