SITUBONDO (Surau.ID) – KHR As’ad Syamsul Arifin merupakan figur kunci yang menyelamatkan eksistensi Nahdlatul Ulama dari ancaman ideologi komunisme tahun 1965 serta pusaran politik praktis melalui keputusan kembali ke Khittah 1926.
Peran monumental sang kiai dalam dua momentum krusial tersebut telah mengukuhkan posisinya sebagai benteng moral dan penyelamat organisasi, yang kini menjadi landasan kokoh bagi perkembangan NU di tengah tantangan zaman modern.
Warisan pemikiran beliau menjadi kompas berharga bagi nahdliyin untuk tetap konsisten menjaga moderasi, keilmuan, dan pelayanan sosial di tengah derasnya arus polarisasi ideologi serta kepentingan kelompok yang sering mengancam persatuan umat.
Benteng Ideologi dan Politik
Kiai As’ad tampil sebagai pelindung saat ancaman PKI mengusik aqidah Ahlussunnah wal Jamaah tahun 1965. Beliau menggerakkan kesadaran umat agar tetap teguh mempertahankan nilai Islam serta tradisi pesantren di tengah konflik ideologi.
Selanjutnya, saat NU terjebak dalam kontestasi politik praktis, beliau memelopori gerakan kembali ke Khittah 1926. Langkah strategis ini mengembalikan fungsi organisasi sebagai pengayom masyarakat yang berdiri tegak di atas semua golongan politik.
Relevansi di Era Digital
Dampak keputusan bersejarah tahun 1984 tersebut terbukti visioner, memungkinkan NU berkembang menjadi organisasi sosial-keagamaan terbesar. Semangat ini kini sangat relevan dalam menghadapi tantangan radikalisme digital, hoaks, serta memudarnya otoritas keilmuan di era media sosial.
“Kiai As’ad mengajarkan bahwa loyalitas kepada NU harus diwujudkan melalui keikhlasan, keteguhan prinsip, dan keberanian menempatkan kepentingan organisasi di atas kepentingan pribadi,” ujar Abdul Wasik, Penulis dalam catatannya.
Mengenang perjuangan Kiai As’ad bukan sekadar seremoni, melainkan upaya mewarisi cara pandang beliau dalam menjaga organisasi. Beliau telah memberikan teladan bagaimana mempertahankan aqidah tanpa kebencian dan menjaga tradisi tanpa menutup diri dari perubahan, demi pengabdian pada agama dan kemanusiaan.