Cropped Red S Simbol.webp
Surau.ID •
20 Juni 2026 | 10:27 WIB
Daerah

Nun Kalim Genggong: Kesederhanaan yang Menginspirasi

IMG
KH. Sholeh Nahrawi (Foto: Surau.ID/Ist).

 

PROBOLINGGO, (Surau.ID) – Di sebuah rumah yang berdiri bersisian dengan Masjid Jami’ Al-Barokah Genggong, Kabupaten Probolinggo, deru langkah kaki dan riuh rendah suara manusia menjadi pemandangan yang karib setiap harinya. Rumah itu milik KH. Sholeh Nahrawi, atau yang lebih melekat di hati masyarakat dengan panggilan hangat Nun Kalim.

Bagi masyarakat Probolinggo dan para pencinta ilmu, Nun Kalim bukan sekadar seorang ulama. Beliau adalah oase tempat ratusan orang datang setiap hari membawa dahaga spiritual, mencari ketenangan melalui untaian nasihat, atau sekadar mengharap berkah doa.

Begitu melimpahnya tamu yang datang membuat ruang tamu beliau kerap tak mampu lagi menampung sesapan manusia, memaksa sebagian dari mereka mengantre panjang di halaman.

Filosofi Memuliakan Tamu dan Antropologi Piring Bersih

Di tengah kepungan zaman modern yang kian individualistis dan transaksional, Nun Kalim tegak berdiri sebagai representasi keluhuran akhlak Islam klasik yang kian langka. Beliau dikenal sebagai pribadi yang sangat memuliakan tamu, penyayang sesama, namun sekaligus tegas dalam prinsip hidup bersahaja.

Arianto, seorang khadam (pembantu setia) asal Desa Karangbong, Kecamatan Pajarakan, mengisahkan bagaimana Nun Kalim memperlakukan tamunya tanpa kasta. “Apa yang beliau makan, itu pula yang disuguhkan kepada tamu,” kenang Arianto.

Namun, ada satu ketegasan unik dari beliau: setiap makanan yang dihidangkan harus dihabiskan tanpa sisa. Bagi Nun Kalim, menyisakan makanan adalah bentuk kemubaziran yang nyata sebuah sikap yang amat beliau benci.

Jika ada tamu yang menyisakan makanan, beliau tidak segan untuk menegur keras, bahkan dalam beberapa catatan, meminta sang tamu untuk tidak kembali sebelum memahami esensi menghargai rezeki.

Sikap ini bukan sekadar ketegasan tanpa dasar. Nun Kalim sedang mengajarkan teologi pangan dan empati mendalam. Beliau ingin setiap orang menghargai peluh petani dan berkah Tuhan yang terselip dalam setiap butir nasi.

Prinsip ini sejalan dengan peringatan keras Al-Qur’an dalam Surah Al-Isra’ ayat 26-27 mengenai larangan berperilaku mubazir, yang menegaskan bahwa para pemboros adalah saudara-saudara setan.

Kesederhanaan Nun Kalim juga tercermin dari hal-hal kecil yang kerap luput dari mata awam. Beliau sering meminta khadamnya memungut potongan kertas kosong yang tercecer di jalanan jika kondisinya masih layak.

Kertas-kertas bekas itulah yang kemudian beliau gunakan untuk menuliskan amalan, wirid, atau doa yang diminta oleh para tamu yang datang berkeluh kesah.

Melintasi Batas Sosial, Mengikat Diri pada Janji

Nun Kalim adalah figur intelektual yang sunyi. Tak banyak yang tahu bahwa beliau memiliki kemampuan linguistik yang luar biasa, menguasai beberapa bahasa asing termasuk Arab, Jepang, dan Cina. Namun, keluasan ilmu tersebut tidak membuatnya berjarak dengan realitas sosial.

Melalui laku silaturahmi, Nun Kalim meruntuhkan sekat-sekat kelas. Beliau gemar mengunjungi rumah para tamunya, terutama mereka yang didera kemiskinan dan tinggal di gubuk-gubuk yang jauh dari kata layak.

Di sana, meski hanya disuguhi secangkir air putih dan sepinggan kerupuk, beliau duduk dengan takzim, melempar senyum, dan memanjatkan doa tulus agar sang tuan rumah dilapangkan rezekinya.

Komitmen beliau terhadap silaturahmi dan janji bahkan melampaui batas kemampuan fisiknya. Menjelang akhir hayatnya pada tahun 2001, ketika penyakit diabetes (kencing manis) telah menggerogoti kedua kakinya hingga sulit berjalan, Nun Kalim menolak untuk berhenti.

Setengah bulan sebelum wafat, dalam kondisi tubuh yang kian payah, beliau bersikeras menunaikan janji silaturahmi ke dua tempat, yakni Desa Sumberkerang (Kecamatan Gending) dan Desa Brabe (Kecamatan Maron). Ketika para kerabat dan khadam meminta beliau beristirahat demi kesehatan, Nun Kalim memberikan jawaban dalam bahasa Madura yang bergetar penuh makna:

“Engkok ajenjih ka oreng, engkok berarti endik otang ke pengiran.” (Saya berjanji kepada orang, berarti saya punya utang kepada Allah).

Bagi Nun Kalim, janji kepada manusia adalah urusan vertikal yang pertanggungjawabannya langsung kepada Sang Pencipta.

Misteri Perintah Haji dan Ketajaman Mata batin

Kisah karamah atau keistimewaan spiritual Nun Kalim juga menjadi buah bibir yang hidup di tengah masyarakat. Salah satu yang paling membekas adalah kebiasaan beliau “memerintahkan” tamu-tamunya untuk berangkat haji, bahkan kepada mereka yang secara hitungan matematika ekonomi mustahil bisa pergi.

H. Abdullah (dahulu bernama Hasan), seorang nelayan dan guru ngaji dari Pulau Gili Ketapang, adalah salah satu saksi hidup. Pada tahun 1985, saat sowan ke kediaman Nun Kalim, ia tiba-tiba diperintahkan untuk menunaikan ibadah haji.

Saat itu, Hasan hanya memiliki satu perahu kecil yang disewakan dengan sistem bagi hasil, dan pendapatannya hanya pas-pasan untuk makan sehari-hari.

Meski diliputi kebingungan, Hasan hanya menjawab dengan kata “amin”. Keajaiban pun terjadi. Pasca-pertemuan itu, laut seolah menumpahkan kekayaannya. Tangkapan ikan dari perahunya melonjak drastis dan konsisten selama berbulan-bulan. Dalam waktu singkat, tabungannya mencukupi untuk melunasi biaya haji pada tahun yang sama.

Sebaliknya, ada pula kisah-kisah peringatan bagi mereka yang berpunya, yang diperintahkan naik haji namun enggan dan memilih membelanjakan hartanya untuk urusan duniawi, yang pada akhirnya mengalami kemunduran ekonomi.

Welas Asih kepada Khadam dan Semesta

Keluhuran budi Nun Kalim tidak hanya berhenti pada manusia, melainkan juga meluas kepada seluruh makhluk hidup. Beliau adalah pencinta binatang; di kediamannya terdapat berbagai jenis burung hingga landak yang dirawat dengan baik.

Bahkan ketika beliau menunaikan ibadah haji ke Tanah Suci pada tahun 1985, pikiran beliau tidak lepas dari kesejahteraan makhluk-makhluk di rumahnya. Melalui sepucuk surat yang dikirim dari Mekkah, Nun Kalim menuliskan instruksi yang sangat detail mengenai menu dan jadwal makan hewan-hewan peliharaannya.

Tak hanya itu, perhatiannya kepada para khadam sangat menyentuh hati. Beliau kerap membuat catatan waktu makan agar para khadam tidak terlambat mengisi perut.

Puncak dari keindahan akhlak ini kerap terlihat pada bulan Ramadan. Setiap kali waktu berbuka puasa tiba, Nun Kalim akan meminta para khadamnya untuk makan terlebih dahulu hingga kenyang.

Sementara beliau sendiri hanya membatalkan puasa dengan seteguk air putih. Setelah memastikan seluruh pembantunya selesai makan, barulah beliau menyantap hidangannya sendiri. Kejujuran kasih sayang inilah yang membuat para khadam betah mengabdi hingga puluhan tahun.

Kini, KH. Sholeh Nahrawi telah tiada, namun warisan keteladanannya tetap hidup. Rumah di samping Masjid Al-Barokah itu mungkin telah kehilangan sosok fisiknya, namun aroma kesederhanaan, cinta silaturahmi, dan ketegasan moral yang ditinggalkan Nun Kalim akan selalu menjadi kompas spiritual bagi masyarakat Probolinggo dan generasi mendatang.

Artikel ini merupakan hasil penulisan ulang dengan merujuk pada sumber pzhgenggong.or.id dan timesindonesia.co.id.

Penulis: Badrul Nurul Hisyam
Editor: Redaksi Surau.ID
TAGS
White Surau
PT. SURAU NUSANTARA GROUP
Perum D’Tanjung Raya, Gang Alamanda, Blok S5, Karanganyar, Paiton, Probolinggo, Jawa Timur 67291

Langganan

Dapatkan artikel atau tulisan terbaru dari Surau.id
Copyright © 2026 Surau.id