JAKARTA (Surau.ID) – Pemerintah Arab Saudi melalui General Authority of Civil Aviation (GACA) resmi mengizinkan Garuda Indonesia mengisi kursi kosong (empty leg) pada penerbangan pulang carter haji mulai musim haji 2027 mendatang.
Kebijakan ini memungkinkan maskapai nasional tersebut mengangkut penumpang umum, termasuk wisatawan asal Arab Saudi, saat pesawat kembali ke Tanah Air. Langkah ini diambil untuk mengoptimalkan operasional penerbangan yang selama ini cenderung kosong saat perjalanan pulang dari Saudi.
Pemerintah menargetkan kebijakan ini mampu menekan aliran dana keluar (cash outflow) yang sangat besar ke Arab Saudi, yang mencapai Rp180 triliun per tahun dari mobilitas jamaah haji dan umrah.
Strategi Pariwisata dan Ekonomi
Pemerintah kini berkolaborasi dengan Kementerian Pariwisata untuk mempromosikan destinasi unggulan Indonesia di pasar Timur Tengah. Penumpang yang dibawa dari Saudi diharapkan dapat berkontribusi pada sektor pariwisata nasional, sekaligus menjadi peluang baru bagi maskapai nasional untuk mendapatkan pendapatan tambahan.
“Penumpang inilah yang kemudian kita bicarakan dengan Kementerian Pariwisata agar objek-objek wisata Indonesia dapat dipromosikan dan menarik minat masyarakat Timur Tengah, khususnya Arab Saudi,” ujar Wakil Menteri Haji dan Umrah, Dahnil Anzar Simanjuntak.
Penguatan Maskapai Nasional
Selain optimalisasi rute, pemerintah berkomitmen memperkuat posisi Garuda Indonesia sebagai maskapai utama bagi jamaah umrah. Ditargetkan 50 persen dari tiga juta jamaah umrah Indonesia ke depan dapat menggunakan layanan Garuda dengan harga yang lebih ekonomis dan kompetitif.
“Tiga juta jamaah umrah itu kami harapkan 50 persennya bisa diterbangkan oleh Garuda, tentu dengan pelayanan yang lebih baik serta harga yang ekonomis dan efisien,” tambah Dahnil. Sinergi antara maskapai nasional dan pelaku pariwisata diharapkan dapat menciptakan ekosistem penerbangan yang jauh lebih efisien, sekaligus memperkuat daya saing pariwisata Indonesia di mata dunia.
Langkah strategis ini tidak hanya akan memberikan dampak positif bagi kesehatan finansial maskapai, tetapi juga menjadi bukti keseriusan pemerintah dalam mengelola mobilitas jamaah haji secara berkelanjutan, yang kini diintegrasikan dengan upaya peningkatan devisa melalui sektor pariwisata nasional untuk kemajuan ekonomi jangka panjang bagi Indonesia.