JAKARTA (SURAU.ID) Nahdlatul Ulama (NU) tengah memasuki fase penting dalam sejarahnya, yakni abad kedua. Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Bidang Media, IT, dan Advokasi, Mohamad Syafi’ Alielha atau Savic Ali, menekankan bahwa organisasi ini menghadapi sejumlah tantangan besar di era modern. Pernyataan tersebut disampaikan dalam diskusi Transformasi Nahdlatul Ulama Memasuki Abad Kedua yang digelar di Aula Kantor Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Jakarta, Kamis (5/2/2026).
Savic menyoroti tiga persoalan utama yang mesti dihadapi NU. Tantangan ini semakin kompleks karena jumlah warga NU mencapai sekitar separuh penduduk Indonesia, sementara NU bukan institusi negara dan tidak memiliki sumber penerimaan pajak.
“Dengan jumlah warga yang begitu banyak, bagaimana kita bisa menavigasi warga kita memasuki abad kedua ini? Tentu kita harus tahu abad kedua itu cirinya apa,” ujarnya.
Salah satu pergeseran besar abad ke-21, menurut Savic, adalah melemahnya basis ekonomi agraria. Kultur masyarakat NU selama ini sangat terkait dengan pertanian, sehingga transisi menuju era industrial dan modern akan berdampak signifikan terhadap organisasi.
“Kalau kita bicara masa depan NU, kita juga harus berpikir tentang ekonomi agraria yang melahirkan kultur agraria yang tidak terikat pada waktu industrial,” lanjutnya.
Savic menekankan bahwa kondisi petani langsung memengaruhi dinamika sosial NU. Saat sektor pertanian menghadapi kesulitan, organisasi pun merasakan dampaknya. Sebaliknya, jika kehidupan petani membaik, beban sosial NU menjadi lebih ringan.
“Kalau para petani bercerita panen susah, nasib pagi ini, dampaknya buat NU pasti juga akan berat. Beda kalau cerita petani itu menyenangkan, para pengurus NU pasti agak lebih enteng,” ujarnya.
Situasi agraria saat ini juga menjadi lebih kompleks karena krisis pangan global dan upaya pemerintah untuk mencapai swasembada pangan.
“Saat ini, dengan krisis pangan dan salah satu prioritas pemerintah adalah swasembada pangan, di era instabilitas sektor agraria menjadi sangat-sangat kompleks,” kata Savic.
Selain ekonomi, Savic menekankan sektor pendidikan sebagai tantangan kedua. Ia menilai keberadaan pesantren yang luas telah mendorong mobilitas sosial warga NU secara signifikan dan membentuk generasi yang berpendidikan luas.
“Sektor pendidikan NU ditopang oleh pesantren yang benar-benar banyak sekali. Kita ini lahir dari keberhasilan mobilitas yang tercipta karena keberhasilan pendidikan,” ujarnya.
Generasi pascareformasi, menurut Savic, mendapatkan akses pendidikan lebih luas, termasuk hingga ke luar negeri. Karena itu, arah kebijakan pendidikan sangat menentukan masa depan NU.
“Artinya, kebijakan pendidikan akan berdampak pada masa depan itu. Sejauh mana mobilitas vertikal di tubuh warga NU sangat dipengaruhi kebijakan pendidikan,” tegasnya.
Tantangan ketiga berkaitan dengan dunia digital. Transformasi digital tidak hanya memengaruhi dunia kerja, tetapi juga norma sosial dan relasi generasi muda, yang kini lebih terbuka dan egaliter.
“Di dunia digital bukan hanya dalam konteks dunia pekerja, tapi juga norma-norma. Generasi yang terpapar dengan apa pun yang ada pada orang lain akan cenderung lebih terbuka, lebih egaliter juga,” jelasnya.
Perubahan pola ini juga berdampak pada model kepemimpinan NU, yang tak lagi bisa sepenuhnya mengandalkan figur karismatik tradisional.
“Saya kira di NU sekarang tidak bisa mengandaikan PBNU dipimpin oleh sebuah figur kebapakan, kemudian di bawahnya sami’na wa atha’na,” ujar Savic.