PROBOLINGGO (Surau.ID) – Masyarakat adat Tengger menyatakan dukungan terhadap program Penataan Jalur Lingkar Kaldera Tengger (JLKT) di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), dengan syarat tetap menghormati nilai adat dan kearifan lokal.
Ketua Paruman Dukun Pandita Tengger, Romo Sutomo, menegaskan pentingnya menjaga keseimbangan antara pembangunan dan nilai spiritual kawasan Bromo.
“Pembangunan harus hormati adat, budaya, dan keseimbangan alam Tengger,” ujarnya.
Romo Sutomo menilai kawasan Bromo merupakan wilayah sakral, sehingga seluruh proses pembangunan harus melibatkan masyarakat adat secara aktif dan terbuka. Ia juga mengingatkan agar program tidak hanya berorientasi pada sektor pariwisata, tetapi juga memberi manfaat nyata bagi warga lokal.
Sementara itu, Bupati Probolinggo, dr. Mohammad Haris Damanhuri Romly menyatakan dukungan penuh terhadap program tersebut sebagai langkah strategis untuk meningkatkan kualitas pariwisata daerah.
“Penataan JLKT harus mendorong ekonomi warga dan menjaga lingkungan,” katanya.
Pemerintah Kabupaten Probolinggo, lanjutnya, akan terus bersinergi dengan pemerintah pusat, masyarakat adat, dan pelaku usaha wisata untuk memastikan program berjalan berkelanjutan.