PROBOLINGGO (Surau.ID) – Dinas Pertanian Kabupaten Probolinggo mempercepat pengajuan Indikasi Geografis (IG) Tembakau Paiton VO (Voor Oogst) melalui asistensi bersama Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual (DJKI) secara daring, Rabu (01/04/2026).
Langkah ini dilakukan untuk memperkuat perlindungan hukum sekaligus meningkatkan daya saing komoditas unggulan daerah di pasar nasional dan internasional.
Asistensi tersebut melibatkan sejumlah pihak, mulai dari Kementerian Hukum dan HAM Kantor Wilayah Jawa Timur, Balai Pengujian Tanaman Pemanis dan Serat (BRMP-TAS), hingga pengurus Masyarakat Perlindungan Indikasi Geografis (MPIG) Tembakau Paiton VO Probolinggo.
Pembahasan difokuskan pada penyempurnaan dokumen deskripsi IG, termasuk karakteristik produk, standar mutu, serta keterkaitan faktor alam dan sumber daya manusia yang menjadi ciri khas tembakau tersebut.
Tembakau Paiton VO dikenal memiliki rajangan berwarna kuning emas, aroma khas “ngacang” yang lembut, serta cita rasa “lemak” yang menjadi daya tarik di segmen pasar premium.
Tenaga ahli DJKI, Gunawan, menegaskan pentingnya konsistensi data dan kejelasan batas wilayah dalam dokumen IG. “Selain itu, sinergi antar stakeholder menjadi kunci dalam mempercepat pengakuan Indikasi Geografis,” ujarnya.
Kepala Bidang Sarana, Penyuluhan, dan Pengendalian Pertanian Diperta Kabupaten Probolinggo, Faiq El Himmah, menyatakan pengajuan IG merupakan strategi untuk meningkatkan nilai tambah produk lokal sekaligus melindunginya dari praktik pemalsuan.
Ia menjelaskan, dengan pengakuan IG, posisi Tembakau Paiton VO diharapkan semakin kuat di pasar. Selain itu, langkah ini diyakini dapat berdampak langsung pada peningkatan kesejahteraan petani.
Faiq menambahkan, pihaknya menargetkan seluruh dokumen persyaratan dapat segera disempurnakan agar proses pendaftaran berjalan lancar hingga memperoleh pengakuan resmi.
Ke depan, perlindungan IG tidak hanya menjaga reputasi produk, tetapi juga mempertahankan tradisi budidaya tembakau lokal yang telah berlangsung turun-temurun.
Selain mendorong daya saing, upaya ini juga diharapkan menjadi pengungkit pertumbuhan ekonomi daerah berbasis potensi lokal yang berkelanjutan.