BESUKI (Surau.ID) – Menjelang adzan Maghrib, Jalan Gunung Ijen berbeda dari biasanya. Di tengah hiruk-pikuk kendaraan yang berlalu-lalang, tampak sekelompok muda-mudi dengan wajah ceria dan tangan sigap membagikan paket-paket kecil berisi takjil kepada pengendara dan warga yang melintas.
Mereka adalah santri dan alumni Pondok Pesantren Al Musyawwir, Besuk, Situbondo. Aktivitas yang tampak sederhana itu sesungguhnya sarat makna. Ketua Pengurus Pondok, Muhassoni Al Kamali, menekankan bahwa kegiatan ini lebih dari sekadar tradisi Ramadan.
“Ini praktik nyata ajaran An-nafu lil ghair, menjadi pribadi yang bermanfaat bagi orang lain. Melalui aksi ini, santri dan alumni mengekspresikan kepedulian mereka,” ujarnya.
Bagi Muhammad Khoirul Anwar, Ketua Alumni, momen ini bagai “cara pulang” simbolik. Meski kini mereka berkiprah di berbagai profesi, kembali ke pesantren untuk membagi takjil adalah pengingat semangat pengabdian yang ditanam sejak menuntut ilmu.

“Ini bukan sekadar memberi makanan. Lebih dari itu, kami menjaga silaturahmi, merawat rasa kebersamaan yang tak lekang oleh waktu,” kata Anwar.
Santri aktif, Nurul Frandika, menambahkan, kebahagiaan itu ternyata sederhana. “Senangnya bisa berbagi! Bersama alumni, kami belajar bahwa bahagia itu cukup melihat senyum orang-orang yang menerima takjil dari kami,” ujarnya sambil tersenyum.
Aktivitas dimulai sejak pukul 14.00, dengan konsolidasi dan pengemasan paket di pondok. Setelah briefing singkat dan doa bersama, rombongan bergerak ke titik-titik strategis di jalan utama. Setiap paket dibagikan secara tertib, area pun dibersihkan setelah selesai. Puncaknya, mereka berbuka bersama, mempererat ikatan kekeluargaan antara santri, alumni, dan para asatidz.
Muhassoni menegaskan, pesantren tidak sekadar menara gading di balik tembok, tetapi juga oase yang menyegarkan di tengah dahaga sosial. “Bagi-bagi takjil ini adalah pesan bisu. Santri hadir untuk merasakan apa yang dirasakan umat, sekaligus memberi apa yang bisa mereka persembahkan,” ujarnya.
Di Jalan Gunung Ijen, senyum penerima takjil menjadi saksi nyata bahwa kepedulian sosial mampu menembus batas generasi, profesi, dan jarak. Bagi santri dan alumni Al Musyawwir, berbagi bukan sekadar ritual, tetapi cara menebar berkah dan menanam empati.