BONDOWOSO, (Surau.ID) – Anggota DPRD Provinsi Jawa Timur dari Fraksi Partai Gerindra, Ahmad Hadinuddin, S.Pd.I., menyoroti dampak ekonomi yang ditimbulkan akibat belum rampungnya pembangunan Jembatan Sentong di Kabupaten Bondowoso.
Menurutnya, percepatan penyelesaian proyek tersebut menjadi kebutuhan mendesak karena menyangkut aktivitas masyarakat dan kelancaran konektivitas antarwilayah.
Pernyataan tersebut disampaikan Ahmad Hadinuddin saat menghadiri kegiatan Sosialisasi Wawasan Kebangsaan di Rumah Makan Lestari, Bondowoso, Sabtu (20/6/2026).
Menurutnya, keberadaan Jembatan Sentong memiliki peran yang sangat penting karena menjadi jalur penghubung utama antara Kabupaten Bondowoso dan Kabupaten Jember.
Karena itu, keterlambatan pembangunan akan berdampak langsung terhadap mobilitas masyarakat maupun distribusi ekonomi di kawasan tapal kuda.
“Agar pembangunan Jembatan Sentong cepat selesai, maka perlu dilakukan percepatan. Pemerintah daerah Bondowoso harus melakukan koordinasi intensif dengan pemerintah di atasnya,” katanya.
Politisi Gerindra dari Daerah Pemilihan Jawa Timur IV itu menilai langkah percepatan tidak bisa dilakukan oleh satu pihak saja.
Menurutnya, diperlukan koordinasi aktif antara pemerintah daerah, pemerintah provinsi, serta pihak ketiga sebagai pelaksana proyek.
Ia meminta agar perkembangan pembangunan segera dievaluasi bersama sehingga hambatan yang muncul dapat segera diatasi.
“Harus segera dibicarakan dengan pihak ketiga. Jika memang menjadi kewenangan atau kebijakan provinsi, maka perlu melibatkan pemerintah provinsi agar ada percepatan penyelesaian,” ujarnya.
Ahmad menjelaskan bahwa dampak yang dirasakan masyarakat tidak hanya berkaitan dengan persoalan lalu lintas dan perjalanan, tetapi juga menyentuh sektor ekonomi masyarakat sekitar jembatan yang selama ini menggantungkan aktivitas usahanya pada kelancaran akses jalan tersebut.
Baginya, banyak aktivitas ekonomi yang mengalami penurunan sejak jalur utama tersebut tidak dapat difungsikan secara normal.
“Yang paling signifikan adalah dampak ekonomi bagi masyarakat sekitar jembatan. Arus mobilisasi masyarakat pada momen-momen tertentu juga pasti sangat terdampak,” tegasnya.
Selain itu, pengalihan arus kendaraan ke sejumlah jalur alternatif juga menimbulkan persoalan baru. Volume kendaraan yang meningkat menyebabkan sejumlah ruas jalan alternatif maupun jalan provinsi mengalami tekanan lebih besar sehingga mulai menunjukkan kerusakan di beberapa titik.
Kondisi tersebut, menurut Ahmad, tidak boleh dibiarkan berlangsung terlalu lama karena akan menimbulkan kerugian yang semakin besar bagi masyarakat.
Oleh sebab itu, ia meminta pihak pelaksana proyek untuk mengoptimalkan seluruh sumber daya yang dimiliki agar pembangunan dapat berjalan lebih cepat tanpa mengurangi kualitas pekerjaan.
“Dengan anggaran kurang lebih Rp17 miliar, tentunya pengerjaan harus dimaksimalkan oleh pihak ketiga. Seharusnya memperbanyak tenaga kerja dan tidak hanya dikerjakan secara manual, tetapi juga menggunakan alat-alat yang dapat menunjang percepatan pembangunan,” katanya.
Jembatan Sentong sendiri diketahui ambruk pada 23 Februari 2026 setelah diterjang derasnya arus Sungai Silo Lembu akibat hujan berintensitas tinggi yang mengguyur wilayah Bondowoso.
Jembatan yang berada di kawasan perbatasan Kelurahan Nangkaan dan Desa Sukowiryo tersebut merupakan salah satu infrastruktur tua yang telah berusia lebih dari satu abad. Sebelum ambruk total, konstruksi bangunan dilaporkan telah mengalami retakan akibat faktor usia.
Peristiwa itu menyebabkan separuh badan jalan ambles dan membentuk lubang besar sehingga membahayakan pengguna jalan. Pemerintah akhirnya menutup total akses utama Bondowoso–Jember demi keselamatan masyarakat.
Sebelum kejadian tersebut, Pemerintah Provinsi Jawa Timur sebenarnya telah mengalokasikan anggaran sekitar Rp17,5 miliar untuk renovasi Jembatan Sentong yang dijadwalkan mulai dikerjakan pada April 2026.
Namun karena kondisi darurat, pemerintah mempercepat pelaksanaan proyek melalui mekanisme diskresi sehingga kontrak pekerjaan dapat dilakukan lebih awal. Saat ini pembangunan jembatan permanen masih berlangsung dengan target penyelesaian sekitar delapan bulan.
Ahmad Hadinuddin berharap seluruh pihak dapat memperkuat sinergi agar pembangunan Jembatan Sentong segera tuntas dan manfaatnya dapat kembali dirasakan masyarakat.
Menurutnya, keberadaan jembatan tersebut bukan sekadar infrastruktur fisik, melainkan urat nadi yang menunjang aktivitas ekonomi, sosial, dan mobilitas masyarakat di Bondowoso serta wilayah sekitarnya.
“Yang terpenting sekarang adalah bagaimana pembangunan ini bisa segera selesai sehingga manfaatnya kembali dirasakan masyarakat,” pungkasnya.