Cropped Red S Simbol.webp
Surau.ID •
13 Agustus 2026 | 22:16 WIB
Daerah

Gerak Jalan Agustusan, Tradisi Meriah yang Berawal dari Napak Tilas Perjuangan

Screenshot
Siswa MTS Manbaul Hikam Tegalmojo mengikuti lomba Gerak Jalan Se-Kecamatan Tegalsiwalan, Kab. Probolinggo.

 

PROBOLINGGO, (Surau.ID) – Setiap bulan Agustus, suasana peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia hampir selalu diwarnai berbagai perlombaan. Salah satu yang paling mudah ditemui di berbagai daerah adalah gerak jalan. Barisan peserta dengan seragam beragam, langkah yang kompak, serta sorak-sorai warga di sepanjang jalan seolah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kemeriahan 17 Agustus.

Namun, tahukah Anda bahwa gerak jalan yang kini identik dengan perlombaan Agustusan memiliki sejarah yang cukup panjang?

Di Jawa Timur, tradisi gerak jalan memiliki kaitan erat dengan upaya mengenang perjuangan para pejuang dalam mempertahankan kemerdekaan. Salah satu tonggak pentingnya tercatat pada periode 1955–1958, ketika Pemerintah Provinsi Jawa Timur menggelar gerak jalan dengan rute Pandaan–Surabaya.

Kegiatan tersebut bukan sekadar olahraga. Rute yang dipilih berkaitan dengan wilayah pertahanan sektor selatan Sungai Brantas yang dahulu menjadi medan perjuangan Batalyon Tjipto dan Abdullah. Pesertanya pun berasal dari berbagai lapisan masyarakat, mulai dari pelajar, pemuda, pegawai pemerintah, pegawai swasta, masyarakat umum hingga para veteran.

Memasuki 1959, rute gerak jalan kemudian berubah menjadi Mojokerto–Surabaya. Perubahan ini dilakukan untuk mengenang perjuangan di sektor barat Sungai Brantas yang melibatkan sejumlah kelompok pejuang, di antaranya Laskar Hisbullah, Tentara Pelajar, Polisi Istimewa serta sejumlah batalyon perjuangan lainnya. Jejak perjuangan tersebut kemudian turut dikenang melalui Monumen Mayangkara di Wonokromo.

Perjalanan gerak jalan Mojokerto–Surabaya ternyata tidak selalu berlangsung mulus. Kegiatan tersebut sempat terhenti pada 1965–1967 akibat situasi politik yang terjadi setelah peristiwa G30S. Tradisi itu kemudian kembali digelar pada 1968 dan pada awalnya dikelola oleh KONI Jawa Timur. Sejak 1974 hingga 1997, pelaksanaannya berada di bawah Pemerintah Provinsi Jawa Timur.

Gerak jalan kembali mengalami masa vakum pada 1998–2005 seiring kondisi sosial, politik, dan ekonomi yang belum stabil. Setelah itu, kegiatan kembali digelar sejak 2006. Bahkan, dalam perkembangannya, gerak jalan tidak hanya menjadi agenda olahraga, tetapi juga dipandang sebagai salah satu cara untuk menghidupkan kembali ingatan masyarakat terhadap perjalanan perjuangan para pahlawan.

Kini, gerak jalan telah berkembang menjadi tradisi yang jauh lebih meriah. Di berbagai daerah, kegiatan ini menjadi bagian dari perayaan HUT Kemerdekaan RI. Anak-anak sekolah, organisasi masyarakat, perangkat desa, komunitas, hingga masyarakat umum berbaris bersama, mengenakan seragam unik, membawa atribut, dan berlomba menampilkan barisan paling kompak serta kreatif.

Di balik kemeriahan itu, tersimpan pesan yang lebih dalam. Setiap langkah yang dilakukan bersama mengingatkan bahwa kemerdekaan Indonesia juga lahir dari perjuangan, kedisiplinan, kebersamaan, dan semangat pantang menyerah.

Karena itu, gerak jalan Agustusan bukan sekadar lomba untuk mencari juara. Ia adalah tradisi yang mempertemukan olahraga, hiburan, kebersamaan, sekaligus penghormatan terhadap sejarah perjuangan bangsa.

Dari langkah yang sederhana, lahir sebuah tradisi yang terus berjalan dari generasi ke generasi. Dan setiap Agustus, ketika barisan kembali memenuhi jalanan, semangat perjuangan itu seakan kembali dihidupkan.

Penulis: Agus Sholeh
TAGS
White Surau
PT. SURAU NUSANTARA GROUP
Perum D’Tanjung Raya, Gang Alamanda, Blok S5, Karanganyar, Paiton, Probolinggo, Jawa Timur 67291

Langganan

Dapatkan artikel atau tulisan terbaru dari Surau.id
Copyright © 2026 Surau.id