Cropped Red S Simbol.webp
Surau.ID •
19 Januari 2026 | 00:03 WIB
Pesantren

Gus Aab: Pesantren Harus Menjadi Penjaga Peradaban di Tengah Tantangan Zaman

GUs Aab
Dr. KH Abdullah Syamsul Arifin atau Gus Aab. {Foto: YouTube Pondok Pesantren Nurul Jadid}

 

Probolinggo (Surau.ID) – Penceramah agama Dr. KH Abdullah Syamsul Arifin atau Gus Aab menegaskan bahwa pesantren memiliki keunggulan mendasar yang sulit tergantikan oleh lembaga pendidikan lain, terutama dalam menjaga dan mewariskan nilai-nilai kenabian dari generasi ke generasi. Hal itu beliau sampaikan saat memberikan tausiyah dalam rangka Haul dan Harlah ke-77 Pondok Pesantren Nurul Jadid di Masjid Jami’ Pondok Pesantren Nurul Jadid, Paiton, Probolinggo, Sabtu malam (18/1/2026).

Menurut pengasuh Pondok Pesantren Darul Arifin, Kabupaten Jember tersebut, tradisi keilmuan ulama yang berkesinambungan dari guru ke santri menjadi kekuatan utama pesantren. Pola pendidikan ini tidak memaksakan para santri, melainkan membimbing santri sesuai bakat dan minatnya.

“Hakikat at-tarbiyah adalah menumbuhkan secara perlahan fitrah yang telah diberikan Allah, agar potensi dan kecenderungan santri dapat berkembang secara maksimal,” tegasnya di hadapan santri, alumni, wali santri, dan masyarakat umum.

Gus Aab menjelaskan, pendekatan pendidikan semacam itu sulit ditemukan di luar pesantren. Karena itu, tantangan ke depan bukan hanya soal kemajuan sains dan teknologi, tetapi juga bagaimana pesantren tetap eksis dan dipercaya di tengah munculnya berbagai pandangan yang menyudutkan lembaga pesantren, bahkan dari kalangan umat Islam sendiri.

Menanggapi hal tersebut, Gus Aab mengapresiasi gagasan Kepala Pondok Pesantren Nurul Jadid KH Hamid Wahid terkait Rencana Induk Pengembangan (RIP) pesantren yang bertumpu pada empat pilar utama. Konsep tersebut, menurutnya, menunjukkan upaya serius pesantren untuk membangun tata kelola modern, termasuk penerapan standar ISO, penguatan sumber daya manusia, serta adaptasi sains dan teknologi tanpa meninggalkan nilai-nilai spiritual.

“Pesantren dituntut mandiri dalam manajemen dan pengelolaan, sekaligus mampu menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman, namun tetap menjaga ruh dan tradisi keilmuannya,” ujarnya.

Lebih jauh, Gus Aab merujuk firman Allah dalam Surah At-Taubah ayat 122 yang menegaskan fungsi pesantren sebagai lembaga tafaqqahu fiddin. Fungsi tersebut, kata dia, tidak boleh dipersempit hanya pada ilmu-ilmu keagamaan secara formal, tetapi harus diperluas pada berbagai cabang keilmuan yang menopang keberlangsungan agama di tengah masyarakat.

“Ke depan, pesantren tidak hanya menjadi pusat pendidikan agama, tetapi juga penjaga peradaban dan budaya luhur yang telah lama tertanam di dalamnya,” pungkas Gus Aab.

Penulis: Adi Purnomo Suharno
Editor: Redaksi Surau.ID
TAGS
White Surau
PT. SURAU NUSANTARA GROUP
Perum D’Tanjung Raya, Gang Alamanda, Blok S5, Karanganyar, Paiton, Probolinggo, Jawa Timur 67291

Langganan

Dapatkan artikel atau tulisan terbaru dari Surau.id
Copyright © 2026 Surau.id