PROBOLINGGO (Surau.ID) – Di sebelah utara Masjid Al Mubarok, komplek Pondok Pesantren Ahlus Sunnah Wal Jamaah, Desa Brani Kulon, Kabupaten Probolinggo, sebuah makam sederhana menjadi saksi bisu peristirahatan terakhir seorang ulama besar. Beliau adalah Habib Husein bin Hadi Al Hamid, sesepuh penyebar Islam di Probolinggo yang dikenal memiliki umur panjang dan kisah spiritual yang mendalam.
Lahir di Hadramaut, Yaman Selatan pada tahun 1862 M dari pasangan Habib Hadi bin Salim Al-Hamid dan Ummu Hani, Habib Husein menutup usia pada hari Jum’at Legi, 25 Januari 1986 (11 Safar 1406 H). Berdasarkan catatan sejarah keluarga, beliau wafat dalam usia yang sangat sepuh, yakni 124 tahun.
Pondasi keilmuan Habib Husein ditempa langsung oleh sang ayah, Habib Hadi bin Salim Al-Hamid, yang dikenal sebagai salah satu ulama dan wali masyhur di Yaman. Namun, jiwa dakwah dan petualangan membawa Habib Husein keluar dari tanah kelahirannya.
Pada tahun 1929 M, dalam usia yang sudah menginjak 86 tahun, beliau memutuskan untuk mengembara. Menggunakan kapal laut bersama para saudagar Arab, Habib Husein berlayar menuju Gujarat, India. Perjalanan ini sekaligus menjadi momen perpisahan selamanya dengan tanah kelahiran beliau di Yaman.
Dua tahun menimba ilmu di Gujarat, pengembaraan berlanjut ke Indonesia. Beliau berlabuh di Batavia, sebelum akhirnya menetap selama beberapa tahun di Pekalongan, Jawa Tengah. Di kota batik inilah beliau berguru kepada ulama kharismatik, Habib Ahmad bin Abdullah bin Thalib Alattas.
Sebagai simbol kelulusan spiritual dan pengakuan atas maqam (derajat) keilmuannya, Habib Husein dianugerahi sorban dan kopiah putih oleh sang guru.
Atas petunjuk Habib Ahmad, beliau kemudian memperdalam ilmu batin kepada Habib Muhammad bin Muhammad Al Muhdhor. Melalui garis perintah guru inilah, takdir membawa Habib Husein ke sebuah desa terpencil di Jawa Timur bernama Brani Kulon pada tahun 1939.
Kedatangan Habib Husein di Kecamatan Maron, Probolinggo, tidak dimulai dengan kemewahan. Beliau harus berjuang dari nol, bahkan sempat menumpang di rumah warga setempat sembari merintis sebuah pesantren kecil. Di desa ini pula, sang habib akhirnya melepas masa lajangnya dan menetap hingga akhir hayat.
Merujuk pada buku Manakib Habib Husein yang disusun oleh cucunya, Habib Abdul Qadir bin Muhammad Shodiq, sang ulama dikenal memiliki fisik yang sangat prima dan jarang sakit hingga usia senja. Ketika ditanya mengenai rahasianya, beliau memberikan jawaban yang menyentuh sisi batin.
“Di hati saya, tidak mempunyai sedikit pun rasa iri dan dengki terhadap pemberian orang lain,” tutur Habib Husein semasa hidup, sebagaimana tertulis dalam manakibnya.
Selain kebersihan hati, kesehatan fisiknya ditopang oleh kebiasaan berjalan kaki. Setiap hari, beliau berjalan menyusuri pemukiman warga dan pasar tradisional. Aktivitas ini bukan sekadar olahraga, melainkan sarana hablum minannas (menjaga hubungan sesama manusia) dan berdakwah secara persuasif.
Di pasar, beliau kerap memborong barang dagangan para penjual yang sepi pembeli agar mereka terhindar dari kerugian. Pendekatan humanis dan penuh empati inilah yang membuat ajaran Islam yang dibawanya sangat membekas dan mudah diterima oleh masyarakat Probolinggo.
Kehidupan spiritual Habib Husein diwarnai dengan berbagai kisah unik. Salah satunya terjadi saat beliau melakukan perjalanan ziarah ke Makam Habib Husein bin Abdullah Alaydrus di Luar Batang, Jakarta.
Di dalam kereta api, seorang pemuda berkaus oblong tiba-tiba mendatangi dan memaksanya memberikan tempat duduk. Tanpa rasa amarah, Habib Husein berdiri dan memberikan kursinya, bahkan memberikan sisa uang bekalnya sebelum pemuda tersebut menghilang secara misterius. Kepada para pengikutnya, Habib Husein kemudian mengungkap bahwa sosok misterius itu adalah Nabi Khidir AS.
Ketinggian maqam spiritual beliau juga diakui oleh para ulama sezamannya. Sahabat beliau, Habib Ahmad, pernah bermunajat untuk bertemu Syekh Abdul Qadir Jaelani dalam mimpi, namun wajah yang muncul justru adalah wajah Habib Husein. Hal ini ditafsirkan oleh para ulama sebagai isyarat kesetaraan derajat kewaliannya di masa itu.
Semasa hidup, kediaman Habib Husein kerap dikunjungi oleh tokoh-tokoh besar, termasuk Habib Soleh Tanggul Jember dan Habib Abdullah bin Abdul Qadir Bilfaqih, pendiri Ponpes Darul Hadits Malang.
Hubungan erat antar-ulama tersebut kini diteruskan oleh keturunan beliau. Anak dan cucunya, seperti Habib Muhammad Shodiq (anak) serta Habib Abdul Qadir dan Habib Salim (cucu), tercatat menimba ilmu di Darul Hadits. Saat ini, tongkat estafet kepemimpinan Ponpes Aswaja Brani Kulon yang dirintis oleh Habib Husein dipegang langsung oleh sang cucu, Habib Abdul Qadir.