Cropped Red S Simbol.webp
Surau.ID •
24 Maret 2026 | 02:46 WIB
Daerah

Haul dan Halalbihalal IKA MNJ: Pentingnya Menjaga Sanad Ilmu

IMG 20260323 WA0071
Kiai Habibullah Ar-Rasyid saat menyampaikan ceramah dalam acara Pengajian Akbar, Haul, dan Halalbihalal yang diselenggarakan oleh Ikatan Alumni Musala Nurul Janna (IKA MNJ) di Dusun Batu Putih, Desa Karang Nangka, Raas, Sumenep, Senin (23/3/2026). (Foto: Surau.ID/ Saipur Rahman)

 

SUMENEP – Ikatan Alumni Musala Nurul Janna (IKA MNJ) menggelar Pengajian Akbar dan Doa Bersama untuk para pendiri serta pengasuh Musala Nurul Janna pada Senin (23/3/2026). Acara yang berlangsung di Dusun Batu Putih, Desa Karang Nangka, Kecamatan Raas, Kabupaten Sumenep ini menjadi momentum mempererat silaturahmi sekaligus mengenang jasa para pendahulu.

Kegiatan yang dimulai pukul 19.30 WIB tersebut menghadirkan dua penceramah, yakni Kiai Seinol Mujib, S.Pd., dan Kiai Habibullah Ar-Rasyid. Ratusan jemaah dan alumni tampak khidmat mengikuti jalannya acara.

Rahasia Kematian

Dalam ceramahnya, Kiai Seinol Mujib mengingatkan para jemaah tentang kepastian maut. Beliau menekankan bahwa kematian adalah rahasia Allah SWT yang harus disikapi dengan persiapan amal saleh.

“Setiap umat ada ajalnya masing-masing. Tanda-tanda orang mati itu tidak ada yang tahu, maka kita harus selalu mawas diri,” pesannya.

Musala sebagai Fondasi Ilmu

Senada dengan hal tersebut, Kiai Habibullah Ar-Rasyid menyoroti pentingnya menghargai keteladanan orang-orang terdahulu. Menurutnya, meskipun secara formal pendidikan orang zaman dahulu tidak setinggi sekarang, kualitas kesalehan mereka sangat luar biasa di mata Allah SWT.

1000091042
Suasana jemaah putra saat mengikuti doa bersama dan halalbihalal IKA Musala Nurul Janna di Dusun Batu Putih. ( Foto: Surau.ID / Saipur Rahman)

Beliau juga menegaskan bahwa musala adalah “jantung” pendidikan agama. Segala ilmu besar yang dipelajari di pesantren (pondok), akarnya berasal dari pelajaran dasar di musala.

“Semua ilmu sebenarnya ada di musala. Kita belajar mengaji, doa salat, hingga tata cara berwudu itu di musala. Saat mondok, ilmu itu baru dikembangkan. Karena itu, jangan sampai kita lepas dari guru ngaji,” tegas Kiai Habibullah.

Beliau mengibaratkan ilmu seperti tangga; setinggi apa pun cita-cita seseorang membaca kitab kuning, ia tidak akan bisa mencapainya tanpa memulai dari dasar, yaitu huruf alif dan ba’.

Sedekah Jariyah Melalui Al-Qur’an

Sebagai penutup tausiyah, Kiai Habibullah mengajak jemaah yang merasa memiliki keterbatasan ilmu untuk tidak berkecil hati dalam berdakwah. Salah satu langkah nyata yang bisa diambil adalah dengan berwakaf Al-Qur’an.

1000091126
Jemaah putri menyimak jalannya pengajian akbar dan halalbihalal IKA MNJ di Desa Karang Nangka, Raas, Sumenep, Senin (23/3/2026). (Foto: Surau.ID / Saipur Rahman)

“Jika kita belum memiliki ilmu yang cukup, cobalah beli Al-Qur’an dan salurkan ke musala. Itu nilainya sama dengan menyalurkan ilmu kepada orang lain karena manfaatnya sangat besar dan pahalanya terus mengalir,” pungkasnya.

Acara diakhiri dengan doa bersama yang ditujukan khusus kepada para pendiri Musala Nurul Janna.

Penulis: Redaksi Surau.ID
Editor: Redaksi Surau.ID
TAGS
White Surau
PT. SURAU NUSANTARA GROUP
Perum D’Tanjung Raya, Gang Alamanda, Blok S5, Karanganyar, Paiton, Probolinggo, Jawa Timur 67291

Langganan

Dapatkan artikel atau tulisan terbaru dari Surau.id
Copyright © 2026 Surau.id