Cropped Red S Simbol.webp
Surau.ID •
07 Januari 2026 | 10:24 WIB
Inspirasi

Kiai Zulfa Dorong Santri Aktif Berorganisasi Usai Jadi Alumni, Teladani Pendiri NU

1000392678.jpg
KH Zulfa Mustofa (Foto: PBNU)

 

Rembang (Surau.ID) – KH Zulfa Mustofa mendorong para santri agar tetap aktif berorganisasi setelah menyelesaikan pendidikan pesantren. Ia menilai organisasi menjadi sarana penting untuk mengamalkan ilmu dan membangun tanggung jawab sosial di masyarakat.

Pesan tersebut disampaikan KH Zulfa Mustofa dalam Haflah Akhirussanah ke-11 Pondok Pesantren Kauman Lasem. Kegiatan itu dirangkai dengan haul para masyayikh serta khatmil Qur’an santri penghafal 30 juz, Ahad (04/01/2026).

Dalam tausiyahnya, Kiai Zulfa menegaskan bahwa kelulusan dari pesantren bukan akhir proses belajar. Santri, menurutnya, harus tetap menjaga tradisi ngaji dan keterlibatan sosial di mana pun berada.

“Santri harus tetap ngaji di mana pun dan sampai kapan pun. Setelah lulus, tetaplah aktif berorganisasi, khususnya di badan otonom NU seperti IPNU, IPPNU, PMII, Ansor, Fatayat NU, Muslimat NU, dan Nahdlatul Ulama,” katanya.

Fiqhus Syariah dan Fiqhul Jam’iyah

KH Zulfa kemudian mengulas jejak perjuangan para pendiri Nahdlatul Ulama asal Lasem. Ia menyebut KH Ma’shum Ahmad Lasem, KH Baidlowi Abdul Aziz, dan KH Kholil Masyhuri sebagai figur ulama paripurna.

Menurutnya, para pendiri NU tidak hanya menguasai ilmu syariat. Mereka juga memiliki kemampuan kuat dalam mengelola organisasi keumatan.

“Para ulama ini tidak hanya memahami fiqhus syariah, tetapi juga fiqhul jam’iyah,” ujar KH Zulfa.

Ia menjelaskan, fiqhus syariah berkaitan dengan hukum Islam. Sementara itu, fiqhul jam’iyah menyangkut tata kelola organisasi yang tertib dan bertanggung jawab.

Kiai Zulfa menilai kombinasi keduanya menjadi ciri ulama ideal. Teladan tersebut, kata dia, telah ditunjukkan para muassis NU sejak awal berdirinya jam’iyah.

“Beliau-beliau ini alim dalam urusan syariat, mumpuni dalam forum bahtsul masail, dan pada saat yang sama juga paham bagaimana mengelola organisasi,” katanya.

Ia mencontohkan KH Ma’shum Ahmad Lasem yang dikenal memiliki banyak murid dan karya keilmuan. Keterlibatan beliau dalam pendirian NU menunjukkan kapasitas keilmuan sekaligus organisatoris.

Murajaah dan Keberkahan Al-Qur’an

Pada kesempatan yang sama, Pengasuh Pondok Pesantren API Tegalrejo Magelang KH Muhammad Yusuf Chudlori menekankan pentingnya murajaah bagi para penghafal Al-Qur’an. Ia mengingatkan bahwa hafalan harus dijaga dengan target hidup yang jelas.

“Rasulullah menyesuaikan jawaban tentang amal utama dengan siapa yang bertanya. Bagi anak muda, beliau menjawab al-halu wal murtahil—datang dan kembali—yang bermakna memiliki target jangka panjang dalam hidup,” jelasnya.

Menurut Gus Yusuf, capaian santri tidak boleh berhenti pada khatam dan hafal. Nilai utama justru terletak pada manfaat dan keberkahan ilmu.

“Targetnya bukan hanya hafal, tapi bagaimana ilmu itu bermanfaat dan membawa keberkahan,” tegasnya.

Ia juga mengingatkan bahaya merasa puas diri setelah menghafal Al-Qur’an.

“Di akhir zaman, ada orang yang hafal Al-Qur’an tetapi tidak mendapat keberkahan karena menjadikannya sebagai ajang pamer. Al-Qur’an tahu siapa yang benar-benar belajar dan mengamalkannya,” tegasnya.

Penulis: Khoirul Umam
Editor: Redaksi Surau.ID
TAGS
White Surau
PT. SURAU NUSANTARA GROUP
Perum D’Tanjung Raya, Gang Alamanda, Blok S5, Karanganyar, Paiton, Probolinggo, Jawa Timur 67291

Langganan

Dapatkan artikel atau tulisan terbaru dari Surau.id
Copyright © 2026 Surau.id