Cropped Red S Simbol.webp
Surau.ID •
02 Januari 2026 | 20:40 WIB
Nasional

Jejak Koperasi Pertama Berizin di Indonesia: Itikoerih Hibarna Lahir di Ciparay Bandung

Kantor koperasi itikoerih hibarna
Raden Haji Amongpradja, bergamis putih, bersama pengurus berpose di depan kantor Koperasi Itikoerih Hibarna. (Sumber Foto: Buku 10 Tahoen Koperasi 1930-1940)

 

Surau.ID – KOPERASI modern pertama di Indonesia lahir di Desa Magung, Kecamatan Ciparay, Kabupaten Bandung. Lembaga bernama Koperasi Itikoerih Hibarna itu berdiri pada Oktober 1929 dengan tokoh utama Raden Rangga Amongpradja.

Sebulan setelah berdiri, pengurus mendaftarkan koperasi tersebut ke Departemen Urusan Ekonomi. Proses itu berujung pada terbitnya Inlandsche Reechtpersoon pada 12 Juni 1930, yang menjadikan Itikoerih Hibarna berbadan hukum.

Peresmian Bersejarah di Ciparay

Untuk mensyukuri terbitnya izin tersebut, pengurus menggelar pertemuan besar di Ciparay pada 22 Juni 1930. Acara itu dihadiri langsung oleh Bupati Bandung R.A.A. Wiranatakusumah V.

Harian Sipatahoenan melaporkan kegiatan tersebut pada edisi 27 Juni 1930. Publikasi itu menguatkan posisi Itikoerih Hibarna sebagai koperasi berizin pertama di Indonesia.

Penegasan lain datang dari Margono Djojohadikoesoemo melalui bukunya 10 Tahoen Koperasi 1930–1940. Ia secara khusus mencantumkan tahun 1930 sebagai tonggak koperasi kredit pertanian Itikoerih Hibarna.

Titik Awal Kongres Koperasi Indonesia

Kantor Koperasi Itikoerih Hibarna juga mencatat peristiwa penting lain. Di tempat ini berlangsung rapat pembentukan Panitia Kongres Koperasi Pertama, yang kerap disebut rapat pra-kongres.

Rapat tersebut dipimpin Niti Soemantri dan A.D. Doengga. Sejumlah tokoh koperasi dari Bandung, Tasikmalaya, Garut, Ciamis, dan Priangan hadir dalam pertemuan itu.

Forum menyepakati pembentukan Pengurus Pusat Koperasi Karesidenan Priangan. Keputusan utamanya meliputi koordinasi koperasi yang sudah ada, dorongan pendirian koperasi baru di Jawa Barat, serta percepatan Kongres Koperasi Indonesia.

Pertemuan Ciparay berlangsung dalam situasi genting. Ancaman kembalinya tentara Belanda yang membonceng NICA masih membayangi.

Para penggerak koperasi memilih melawan dengan cara berbeda. Mereka menunjukkan bahwa ekonomi pribumi tetap berjalan, terorganisasi, dan berdaulat.

Sikap itu memberi tekanan politik tersendiri. Aktivitas ekonomi kolektif menjadi simbol perlawanan non-militer terhadap kolonialisme.

Dari Studi Belanda ke Gerakan Rakyat

Akar koperasi di Bandung tidak lepas dari peran Bupati Wiranatakusumah V. Pada akhir 1927 hingga awal 1928, ia mendapat tugas studi banding koperasi ke Belanda.

Ia mengunjungi Coöperatieve Centrale Boerenleenbank di Eindhoven, cikal bakal Rabobank. Sekembalinya ke Bandung, ia aktif memberi ceramah tentang koperasi, termasuk di Ciparay.

Paparan itu disimak serius oleh Raden Amongpradja, seorang guru dan kepala sekolah yang pensiun pada 1922. Ia lalu menginisiasi pendirian koperasi di Magung dengan mengikuti seluruh prosedur resmi.

Arsip Sejarah: Harapan untuk Itikoerih Hibarna (1930)

Liputan peresmian Koperasi Itikoerih Hibarna tidak hanya memuat laporan kegiatan. Harian Sipatahoenan juga mencatat suasana batin masyarakat Magung terhadap lahirnya koperasi tersebut.

Dalam edisi 27 Juni 1930, surat kabar itu menutup laporannya dengan sebuah harapan puitis. Redaksi Sipatahoenan menurunkannya sebagai bentuk doa dan aspirasi rakyat terhadap masa depan Itikoerih Hibarna.

Kutipan berikut dimuat sebagaimana tercantum dalam arsip Sipatahoenan, tanpa perubahan redaksi:

Muga ka Yang Agung
Itikurih Hibarna
geura gedé geura jangkung
mapakan Bank Bandung
geura jadi tunggul payung
pangauban urang Magung

Ulah unggut kalinduan
ulah gedag kaainginan
ulah geder ku panyarék
ulah risi ku panyirik
ulah hamham ku panyaram

Itikurih hibarna
sing tetep renggenek
najan deungeiun ngunek-ngunek
najan ronghok nu nyepion
najan rayap mata-mata
ulah gimir da Itikurih
Hibarna Kumpulan nyata

Harapan tersebut mencerminkan posisi koperasi bukan sekadar lembaga ekonomi. Itikoerih Hibarna dipandang sebagai pelindung sosial dan tumpuan hidup warga Magung di tengah tekanan kolonial.Bagi masyarakat saat itu, koperasi menjadi simbol kemandirian. Ia menandai keberanian rakyat mengelola ekonomi sendiri, tanpa bergantung pada sistem kolonial.

_________________________________________

Sumber: Tulisan ini disusun ulang oleh redaksi dengan penyesuaian gaya dan struktur pemberitaan, merujuk pada NU Online / Iip D. Yahya — penulis buku Kongres Koperasi Pertama di Tasikmalaya 1947, Direktur Media Center PWNU Jawa Barat.

Penulis: ZH Rizqiyansyah
TAGS
White Surau
PT. SURAU NUSANTARA GROUP
Perum D’Tanjung Raya, Gang Alamanda, Blok S5, Karanganyar, Paiton, Probolinggo, Jawa Timur 67291

Langganan

Dapatkan artikel atau tulisan terbaru dari Surau.id
Copyright © 2026 Surau.id